Rumah yang Dirindukan: Sepuluh Nasihat Penutup menuju Baiti Jannati

Rumah yang dirindukan bukanlah rumah yang selalu dipenuhi kemewahan, bebas dari persoalan, atau memiliki segala sesuatu yang diinginkan. Rumah yang dirindukan adalah tempat seseorang menemukan ketenangan setelah lelah menghadapi dunia; tempat suami, istri, dan anak-anak bertumbuh dalam cinta, saling memahami, dan bersama-sama mendekat kepada Allah Swt.

Pembahasan ini menjadi penutup dari rangkaian dua puluh nasihat membangun rumah tangga, yang terinspirasi dari nilai-nilai yang disampaikan dalam buku Baiti Jannati karya Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D. Sepuluh nasihat terakhir mengajak setiap keluarga untuk kembali melihat fondasi kebahagiaan: bagaimana memaknai harta, mengelola waktu dan hobi, mendidik anak tentang uang, menyelesaikan konflik, memperlakukan pasangan dengan kelembutan, hingga menyerahkan hasil akhir kehidupan kepada Allah melalui tawakal.

Allah Swt. berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini mengingatkan bahwa orientasi utama pernikahan bukan sekadar memiliki, tetapi menemukan ketenteraman. Bukan hanya tentang bertambahnya fasilitas, tetapi bertambahnya mawaddah dan rahmah.

Berikut sepuluh nasihat penutup menuju rumah yang, insya Allah, dapat menjadi Baiti Jannati—rumahku surgaku.

  1. Jangan Mengukur Kebahagiaan dengan Standar Material

Salah satu jebakan terbesar keluarga modern adalah menjadikan kebahagiaan identik dengan materi. Rumah yang besar, kendaraan yang bagus, penghasilan tinggi, atau kehidupan yang tampak sempurna di media sosial sering kali dijadikan ukuran keberhasilan sebuah keluarga.

Padahal, banyak keluarga memiliki kelimpahan harta tetapi miskin percakapan. Ada rumah yang indah secara fisik, tetapi penghuninya saling berjauhan secara emosional.

Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan fondasi penting bagi keluarga: kaya tidak selalu berarti memiliki banyak, tetapi mampu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki.

Para ulama menjelaskan bahwa kekayaan hati tampak dalam sikap qana’ah, yaitu menerima rezeki Allah dengan lapang dada tanpa berhenti berikhtiar. Qana’ah bukan berarti malas memperbaiki keadaan ekonomi, melainkan tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan dan harga diri.

Dalam perspektif psikologi keluarga, tekanan ekonomi memang dapat memengaruhi kepuasan pernikahan. Penelitian terhadap 751 pasangan orang tua di Jawa Barat menemukan bahwa tekanan finansial berkaitan negatif dengan kepuasan pernikahan dan kualitas hidup. Namun, kemampuan pasangan menghadapi tekanan secara bersama-sama (dyadic coping) dapat memperlemah dampak negatif tekanan finansial terhadap kepuasan pernikahan. Artinya, persoalan ekonomi tidak harus dihadapi dengan saling menyalahkan, melainkan sebagai persoalan yang dihadapi oleh “kita”.

Karena itu, kebahagiaan keluarga tidak semata-mata bergantung pada berapa banyak yang dimiliki, tetapi juga bagaimana keluarga memaknai apa yang dimiliki.

  1. Ubah Hobi Menjadi Jalan Bertumbuh dan Sumber Berkah

Setiap orang membutuhkan ruang untuk beristirahat dan menikmati kehidupan. Hobi dapat menjadi sarana menjaga kesehatan psikologis, mengembangkan potensi, bahkan mempererat hubungan keluarga.

Namun, hobi perlu dikelola agar tidak berubah menjadi sumber konflik.

Seorang suami yang terlalu tenggelam dalam hobinya hingga mengabaikan istri dan anak, atau seorang istri yang menghabiskan waktu dan sumber daya keluarga tanpa mempertimbangkan kebutuhan bersama, perlu melakukan evaluasi. Hobi yang sehat bukan hobi yang menjauhkan seseorang dari keluarga, tetapi yang membantu seseorang kembali kepada keluarganya dengan energi dan kebahagiaan yang lebih baik.

Penelitian mengenai keseimbangan peran dalam keluarga menunjukkan bahwa waktu luang yang dinikmati bersama pasangan dan keluarga berkaitan dengan keseimbangan kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, pola waktu luang yang terlalu individual dapat menciptakan ketidakseimbangan dalam kehidupan keluarga.

Karena itu, hobi dapat diubah menjadi berkah dengan beberapa cara:

  1. Melibatkan pasangan dan anak dalam aktivitas tertentu.
  2. Menjadikan hobi sebagai sarana mempererat komunikasi.
  3. Menetapkan batas waktu dan anggaran yang disepakati.
  4. Mengembangkan hobi menjadi keterampilan yang produktif.
  5. Tidak membiarkan hobi mengalahkan tanggung jawab utama.

Bisa jadi kegemaran memasak melahirkan usaha keluarga. Kegemaran membaca melahirkan budaya literasi di rumah. Kegemaran berkebun mengajarkan anak tentang kesabaran. Kegemaran olahraga menjadi waktu berkualitas antara orang tua dan anak.

Dengan demikian, hobi bukan sekadar “kesenangan pribadi”, tetapi dapat menjadi energi positif yang menghidupkan keluarga.

  1. Ajarkan Anak Menabung Sejak Dini

Pendidikan keuangan bukanlah sesuatu yang harus menunggu anak dewasa. Karakter menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, menunda kepuasan, serta bertanggung jawab terhadap uang dapat mulai dikenalkan secara bertahap sejak usia dini.

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا

“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya, karena itu engkau menjadi tercela dan menyesal.”
(QS. Al-Isra’: 29)

Ayat ini mengajarkan prinsip keseimbangan: tidak kikir dan tidak pula berlebihan.

Orang tua dapat memulai pendidikan finansial melalui hal-hal sederhana, seperti memberikan tempat menabung, mengajarkan anak menyisihkan uang, membedakan antara “ingin” dan “butuh”, serta melibatkan anak dalam percakapan sederhana mengenai perencanaan keuangan keluarga sesuai dengan tingkat usianya.

Penelitian psikologi tentang sosialisasi keuangan menunjukkan bahwa pendidikan keuangan yang diterima seseorang dari orang tuanya pada masa kanak-kanak dan remaja berkaitan dengan hasil yang lebih baik ketika memasuki masa dewasa, termasuk kepuasan hidup dan kondisi psikologis.

Bahkan, penelitian lain menunjukkan bahwa cara orang tua menyelesaikan konflik keuangan dapat menjadi bagian dari proses pendidikan finansial anak. Anak tidak hanya belajar dari nasihat tentang uang, tetapi juga dari apa yang mereka lihat: apakah orang tuanya berdiskusi, bernegosiasi, saling menghormati, atau justru bertengkar dan saling menyalahkan.

Maka, pelajaran keuangan terbaik bukan hanya:

“Nak, rajinlah menabung.”

Tetapi juga keteladanan:

“Nak, lihatlah bagaimana Ayah dan Ibu berusaha menggunakan rezeki Allah dengan bijak.”

  1. Kelola Keuangan Bersama, Jangan Menjadikannya Rahasia dan Senjata

Keuangan merupakan salah satu persoalan yang sering memicu ketegangan dalam rumah tangga. Namun, masalahnya tidak selalu semata-mata pada jumlah uang. Sering kali persoalan yang lebih mendalam adalah cara pasangan berkomunikasi tentang uang.

Penelitian mengenai konflik finansial dan kepuasan pernikahan menemukan bahwa komunikasi yang konstruktif dalam menghadapi masalah keuangan berkaitan dengan kepuasan komunikasi finansial dan kepuasan pernikahan yang lebih baik. Sebaliknya, pola komunikasi yang destruktif, saling menuntut lalu menghindar, atau terus-menerus menghindari pembicaraan tentang uang berkaitan dengan ketidakharmonisan dan kepuasan pernikahan yang lebih rendah.

Karena itu, keluarga perlu memiliki ruang musyawarah keuangan. Tidak harus berupa rapat yang formal, tetapi ada waktu untuk berbicara tentang:

  • pendapatan dan prioritas kebutuhan;
  • kebutuhan rutin keluarga;
  • tabungan dan dana darurat;
  • utang atau kewajiban yang harus diselesaikan;
  • pendidikan anak;
  • rencana masa depan.

Allah Swt. memuji orang-orang yang menjalankan urusan mereka dengan musyawarah:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

“Sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura: 38)

Prinsip musyawarah sangat relevan dalam keluarga. Suami dan istri tidak perlu selalu memiliki pendapat yang sama, tetapi keduanya harus merasa didengar, dihargai, dan dilibatkan.

Masalah keuangan hendaknya tidak dijadikan senjata untuk merendahkan pasangan. Kalimat seperti, “Karena uangku lebih banyak, kamu tidak berhak bicara,” hanya akan merusak rasa kemitraan dalam keluarga.

  1. Hadapi Konflik sebagai Masalah Bersama, Bukan Pertarungan Suami Melawan Istri

Konflik dalam rumah tangga adalah bagian dari kehidupan manusia. Dua orang dengan latar belakang keluarga, kebiasaan, karakter, dan cara berpikir yang berbeda tentu berpotensi mengalami perbedaan.

Yang menentukan kualitas pernikahan bukanlah apakah pasangan pernah berkonflik, melainkan bagaimana mereka menghadapi konflik tersebut.

Penelitian psikologi keluarga menunjukkan bahwa interaksi dan komunikasi suami-istri memiliki hubungan penting dengan kehidupan pernikahan. Kurangnya interaksi dan komunikasi dalam berbagai aspek kehidupan keluarga dapat mendorong konflik dan ketidakharmonisan.

Ketika konflik muncul, ubahlah cara pandang:

Bukan aku versus kamu.
Tetapi kita bersama-sama menghadapi masalah.

Hindari memperbesar konflik dengan membuka kesalahan lama, mempermalukan pasangan, menggunakan kata-kata kasar, atau melibatkan anak sebagai alat untuk memenangkan pertengkaran.

Allah Swt. berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 83)

Jika kepada manusia secara umum kita diperintahkan berkata baik, maka kepada pasangan—orang yang hidup paling dekat dengan kita—tentu tuntutan menjaga lisan menjadi semakin penting.

Dalam menghadapi konflik, terkadang pasangan tidak membutuhkan kemenangan. Mereka membutuhkan pemahaman.

  1. Kelembutan adalah Kekuatan, Bukan Kelemahan

Dalam sebagian budaya, seseorang dianggap kuat apabila keras, tegas, dan selalu mampu mendominasi. Padahal, dalam pendidikan Rasulullah saw., kelembutan justru merupakan salah satu bentuk kekuatan akhlak.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.”
(HR. Muslim)

Kelembutan tidak berarti membiarkan kesalahan. Kelembutan adalah kemampuan menyampaikan kebenaran tanpa harus menghancurkan perasaan.

Para ulama menjelaskan bahwa rifq merupakan akhlak yang sangat dianjurkan dalam interaksi. Bahkan nasihat, koreksi, dan pendidikan akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan cara yang bijaksana.

Dalam keluarga, kelembutan dapat hadir dalam bentuk sederhana:

  • mendengarkan pasangan sampai selesai;
  • tidak langsung bereaksi ketika emosi;
  • memilih kata yang baik;
  • memegang tangan pasangan ketika sedang gelisah;
  • meminta maaf tanpa menunggu keadaan semakin buruk.

Kadang-kadang rumah tangga tidak membutuhkan kalimat yang panjang. Ia hanya membutuhkan satu sikap lembut yang mengatakan:

“Aku tahu kamu sedang lelah. Mari kita hadapi ini bersama.”

  1. Jadikan Ketenangan sebagai Budaya Rumah

Rumah seharusnya menjadi tempat pemulihan, bukan sumber ketakutan.

Setiap anggota keluarga tentu ingin pulang ke rumah yang membuatnya merasa aman secara emosional. Anak tidak takut melakukan kesalahan karena akan dibimbing. Istri tidak takut menyampaikan pendapat. Suami tidak takut menceritakan kesulitannya.

Ketenangan tidak berarti rumah tidak pernah gaduh. Anak-anak tentu dapat bermain dan tertawa. Perbedaan pendapat juga tetap mungkin terjadi. Namun, budaya rumah harus dibangun di atas rasa aman, bukan intimidasi.

Allah Swt. berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan pergaulilah mereka dengan cara yang patut.”
(QS. An-Nisa’: 19)

Para mufasir menjelaskan prinsip mu’asyarah bil ma’ruf sebagai kehidupan bersama yang dibangun dengan perlakuan baik, penghormatan, dan kepantasan.

Rumah yang tenang dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil: mengucapkan salam ketika pulang, menanyakan kabar, makan bersama ketika memungkinkan, mengurangi penggunaan gawai saat berbicara, dan menyediakan waktu untuk mendengar cerita anggota keluarga.

Ketenteraman rumah bukan hadir dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari kebiasaan baik yang dilakukan secara berulang.

  1. Jangan Remehkan Senyum: Ia Bisa Menjadi Sedekah

Ada keluarga yang tidak kekurangan kebutuhan, tetapi kekurangan ekspresi kasih sayang. Semua orang sibuk, semua orang bekerja, semua orang memiliki tanggung jawab—tetapi hampir tidak ada yang tersenyum kepada anggota keluarganya sendiri.

Padahal Rasulullah saw. bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.”
(HR. Tirmidzi)

Jika senyum kepada saudara merupakan sedekah, maka senyum kepada pasangan dan anak-anak tentu dapat menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berharga.

Senyum bukan solusi untuk seluruh masalah. Orang yang sedang menghadapi persoalan berat tetap membutuhkan penyelesaian nyata. Namun, senyum dapat menjadi bahasa emosional yang menyampaikan penerimaan dan kehangatan.

Jangan sampai kita ramah kepada semua orang di luar rumah, tetapi membawa wajah paling tegang kepada orang-orang yang paling dekat dengan kita.

Berikan senyum kepada pasangan. Sambut anak-anak dengan wajah yang menyenangkan. Jadikan rumah tempat di mana setiap orang merasa:

“Kehadiranku di sini diterima.”

  1. Berusahalah Sepenuh Hati, Lalu Belajarlah Bertawakal

Tidak semua rencana keluarga akan berjalan sesuai harapan. Ada usaha yang belum berhasil. Ada anak yang membutuhkan perhatian lebih. Ada kebutuhan yang meningkat ketika penghasilan tidak bertambah. Ada masalah yang penyelesaiannya membutuhkan waktu.

Di sinilah tawakal menjadi kekuatan spiritual keluarga.

Allah Swt. berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.”
(QS. At-Talaq: 3)

Tawakal bukan berarti berhenti merencanakan. Bukan pula menyerahkan semua persoalan tanpa ikhtiar.

Ulama seperti Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal berkaitan dengan bersandarnya hati kepada Allah, sementara manusia tetap menjalankan sebab dan ikhtiar yang dibenarkan. Demikian pula Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa tawakal tidak bertentangan dengan usaha; mengambil sebab merupakan bagian dari ketaatan, sedangkan ketergantungan hati tetap hanya kepada Allah.

Karena itu, keluarga yang bertawakal tetap bekerja, menyusun anggaran, mendidik anak, menyelesaikan konflik, mencari pertolongan ketika diperlukan, dan memperbaiki kesalahan.

Namun setelah seluruh ikhtiar dilakukan, keluarga tersebut menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah.

Tawakal mengajarkan kita untuk berkata:

“Kami akan melakukan yang terbaik, tetapi kami tidak akan membiarkan kecemasan menghancurkan iman kami.”

  1. Jangan Berhenti Berdoa agar Rumah Menjadi Jalan Menuju Surga

Nasihat terakhir sekaligus menjadi puncak dari seluruh perjalanan membangun rumah tangga: jangan hanya meminta rumah yang nyaman di dunia, tetapi mintalah keluarga yang menjadi jalan menuju keselamatan di akhirat.

Allah Swt. mengajarkan doa:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)

Inilah doa tentang keluarga yang sangat indah. Bukan hanya meminta pasangan dan anak, tetapi meminta agar mereka menjadi qurrata a’yun, penyejuk mata dan hati.

Rumah yang dirindukan bukan rumah yang penghuninya sempurna. Tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang sempurna, dan tidak ada orang tua yang sempurna.

Namun, rumah yang baik adalah rumah yang penghuninya mau terus belajar.

Belajar meminta maaf.
Belajar memaafkan.
Belajar mengelola uang.
Belajar mengendalikan emosi.
Belajar berbicara dengan lembut.
Belajar tersenyum.
Belajar bersyukur.
Belajar bekerja keras.
Dan belajar menyerahkan hasil kepada Allah.

Penutup: Dari Rumah Biasa Menuju Baiti Jannati

Dua puluh nasihat dalam rangkaian kajian ini pada akhirnya membawa kita kepada satu kesadaran: Baiti Jannati tidak dibangun dalam satu hari.

Ia dibangun dari kata-kata yang dijaga. Dari uang yang dikelola dengan amanah. Dari hobi yang tidak melupakan keluarga. Dari anak-anak yang dididik dengan teladan. Dari konflik yang diselesaikan tanpa saling merendahkan. Dari kelembutan yang dipilih ketika kemarahan sebenarnya lebih mudah dilakukan.

Ia juga dibangun dari senyum, pelukan, doa, dan tawakal.

Kebahagiaan sejati tidak selalu berarti memiliki kehidupan tanpa masalah. Kebahagiaan adalah ketika di tengah masalah, keluarga masih memiliki alasan untuk saling menggenggam dan berkata:

“Kita mungkin belum memiliki semuanya, tetapi selama kita masih bersama dalam kebaikan dan dekat kepada Allah, insya Allah kita sedang berjalan menuju rumah yang dirindukan.”

Semoga Allah menjadikan rumah-rumah kita sebagai tempat tumbuhnya iman, cinta, ketenangan, ilmu, dan keberkahan. Semoga suami dan istri menjadi penyejuk satu sama lain. Semoga anak-anak menjadi generasi yang saleh dan salehah. Dan semoga rumah yang kita bangun di dunia menjadi jalan menuju pertemuan kembali dalam surga-Nya.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا تَمْلَؤُهَا الْمَوَدَّةُ وَالرَّحْمَةُ وَالطَّاعَةُ لَكَ

Ya Allah, perbaikilah pasangan dan keturunan kami, dan jadikanlah rumah-rumah kami rumah yang dipenuhi kasih sayang, rahmat, dan ketaatan kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Oleh: Delpa Firdaus, S. Sy., M. H

Referensi

  1. Al-Qur’an al-Karim.
  2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
  3. Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.
  4. Al-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan al-Tirmidzi.
  5. Saifullah Kamalie, Ph.D. Baiti Jannati.
  6. Novianti, L. E. L., Purba, F. D., Karremans, J. C., & Agustiani, H. “Financial Strain among West-Javanese Parents: Its Association with Marital Satisfaction and Quality of Life, and the Role of Dyadic Coping.” Frontiers in Psychology, 2024. Penelitian ini secara khusus mengkaji 751 pasangan orang tua di Jawa Barat.
  7. Shebib, S., & Cupach, W. “Financial Conflict Messages and Marital Satisfaction: The Mediating Role of Financial Communication Satisfaction.” Psychology, 2018.
  8. LeBaron-Black, A. B. dkk. “Finances and Fate: Parent Financial Socialization, Locus of Control, and Mental Health in Emerging Adulthood.” 2022.
  9. Penelitian tentang konflik finansial orang tua, sosialisasi keuangan, dan kesejahteraan anak dewasa, Journal of Family and Economic Issues, 2024.
  10. Wulansari, D., & Krisnatuti, D. “Marital Interaction and Marital Role on Marital Satisfaction of Dual Earner Family with School Age Children.” Journal of Child, Family, and Consumer Studies.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *