International Guest Lecture Bahas Etika Islam, Sains, dan Kepemimpinan untuk Masa Depan Berkelanjutan

Universitas Darunnajah bersama Universiti Malaya menyelenggarakan International Guest Lecture bertajuk “Islam, Science & Ethics: Navigating Contemporary Challenges for a Sustainable Future” pada 1 September 2026 secara daring melalui Google Meet. Kegiatan pukul 10.00–12.00 waktu Malaysia itu diikuti lebih dari 100 peserta dari Indonesia dan Malaysia yang terdiri atas mahasiswa dan dosen.

Kegiatan menghadirkan Dr. Asmawati Muhammad sebagai moderator, Emeritus Prof. Datuk Dr. Azizan Baharuddin sebagai Speaker 1, serta Dr. Much Hasan Darojat sebagai Speaker 2. Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi akademik untuk membahas etika sains, teknologi, kepemimpinan, dan keberlanjutan lingkungan melalui perspektif Islam.

Prof. Azizan Baharuddin menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan praktik STEM harus diarahkan pada kemaslahatan bersama, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan kesejahteraan manusia. Perkembangan kecerdasan buatan, bioteknologi, genetika, dan teknologi lainnya, menurutnya, menghadirkan dilema moral yang membutuhkan keseimbangan antara inovasi dan tanggung jawab.

Perubahan iklim, ketergantungan bahan bakar fosil, sampah makanan, kepunahan keanekaragaman hayati, polusi plastik, deforestasi, dan degradasi lahan disebut sebagai persoalan yang mengancam kehidupan. Karena itu, ilmu pengetahuan perlu ditempatkan sebagai bagian dari solusi melalui landasan etika yang kuat, bukan sekadar mengejar kemajuan teknologi.

Materi juga menyoroti perlunya pengembangan STEM menuju STEAM atau STREAM dengan memasukkan seni, agama, dan metafisika dalam pembentukan cara pandang terhadap ilmu. Pendekatan ini mendorong agar pengembangan teknologi mempertimbangkan aspek fisik, sosial, budaya, nilai moral, serta tujuan kehidupan.

Dr. Much Hasan Darojat membahas “The Ethical Leadership in Islam: From Worldview to Accountability” dengan menempatkan kepemimpinan sebagai amanah. Empat fondasinya meliputi tawhid sebagai sumber otoritas, khilafah sebagai tanggung jawab menjaga bumi, amanah sebagai tanggung jawab yang dipercayakan, dan akhirat sebagai orientasi pertanggungjawaban.

Kepemimpinan profetik dijelaskan melalui sidq, amanah, tabligh, dan fatanah sebagai dasar integritas, tanggung jawab, komunikasi, dan kecakapan mengambil keputusan. Dalam lembaga pendidikan, prinsip ‘adl, ihsan, amanah, shura, dan rahmah diperkuat melalui tabayyun, musyawarah, keteguhan keputusan, tawakkul, serta muhasabah.

Kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi Indonesia–Malaysia dalam membangun ilmu dan kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan serta keberlanjutan. Peserta diharapkan menerapkan amanah, keadilan, integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap alam dalam kehidupan akademik maupun kepemimpinan bersama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *