Sakinah Center – Fakultas Agama Islam https://fai.darunnajah.ac.id Mon, 24 Aug 2026 03:51:44 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.1 Rumah yang Dirindukan: Sepuluh Nasihat Penutup menuju Baiti Jannati https://fai.darunnajah.ac.id/rumah-yang-dirindukan-sepuluh-nasihat-penutup-menuju-baiti-jannati https://fai.darunnajah.ac.id/rumah-yang-dirindukan-sepuluh-nasihat-penutup-menuju-baiti-jannati#respond Mon, 24 Aug 2026 03:51:44 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/?p=804 Rumah yang dirindukan bukanlah rumah yang selalu dipenuhi kemewahan, bebas dari persoalan, atau memiliki segala sesuatu yang diinginkan. Rumah yang dirindukan adalah tempat seseorang menemukan ketenangan setelah lelah menghadapi dunia; tempat suami, istri, dan anak-anak bertumbuh dalam cinta, saling memahami, dan bersama-sama mendekat kepada Allah Swt.

Pembahasan ini menjadi penutup dari rangkaian dua puluh nasihat membangun rumah tangga, yang terinspirasi dari nilai-nilai yang disampaikan dalam buku Baiti Jannati karya Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D. Sepuluh nasihat terakhir mengajak setiap keluarga untuk kembali melihat fondasi kebahagiaan: bagaimana memaknai harta, mengelola waktu dan hobi, mendidik anak tentang uang, menyelesaikan konflik, memperlakukan pasangan dengan kelembutan, hingga menyerahkan hasil akhir kehidupan kepada Allah melalui tawakal.

Allah Swt. berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini mengingatkan bahwa orientasi utama pernikahan bukan sekadar memiliki, tetapi menemukan ketenteraman. Bukan hanya tentang bertambahnya fasilitas, tetapi bertambahnya mawaddah dan rahmah.

Berikut sepuluh nasihat penutup menuju rumah yang, insya Allah, dapat menjadi Baiti Jannati—rumahku surgaku.

  1. Jangan Mengukur Kebahagiaan dengan Standar Material

Salah satu jebakan terbesar keluarga modern adalah menjadikan kebahagiaan identik dengan materi. Rumah yang besar, kendaraan yang bagus, penghasilan tinggi, atau kehidupan yang tampak sempurna di media sosial sering kali dijadikan ukuran keberhasilan sebuah keluarga.

Padahal, banyak keluarga memiliki kelimpahan harta tetapi miskin percakapan. Ada rumah yang indah secara fisik, tetapi penghuninya saling berjauhan secara emosional.

Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan fondasi penting bagi keluarga: kaya tidak selalu berarti memiliki banyak, tetapi mampu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki.

Para ulama menjelaskan bahwa kekayaan hati tampak dalam sikap qana’ah, yaitu menerima rezeki Allah dengan lapang dada tanpa berhenti berikhtiar. Qana’ah bukan berarti malas memperbaiki keadaan ekonomi, melainkan tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan dan harga diri.

Dalam perspektif psikologi keluarga, tekanan ekonomi memang dapat memengaruhi kepuasan pernikahan. Penelitian terhadap 751 pasangan orang tua di Jawa Barat menemukan bahwa tekanan finansial berkaitan negatif dengan kepuasan pernikahan dan kualitas hidup. Namun, kemampuan pasangan menghadapi tekanan secara bersama-sama (dyadic coping) dapat memperlemah dampak negatif tekanan finansial terhadap kepuasan pernikahan. Artinya, persoalan ekonomi tidak harus dihadapi dengan saling menyalahkan, melainkan sebagai persoalan yang dihadapi oleh “kita”.

Karena itu, kebahagiaan keluarga tidak semata-mata bergantung pada berapa banyak yang dimiliki, tetapi juga bagaimana keluarga memaknai apa yang dimiliki.

  1. Ubah Hobi Menjadi Jalan Bertumbuh dan Sumber Berkah

Setiap orang membutuhkan ruang untuk beristirahat dan menikmati kehidupan. Hobi dapat menjadi sarana menjaga kesehatan psikologis, mengembangkan potensi, bahkan mempererat hubungan keluarga.

Namun, hobi perlu dikelola agar tidak berubah menjadi sumber konflik.

Seorang suami yang terlalu tenggelam dalam hobinya hingga mengabaikan istri dan anak, atau seorang istri yang menghabiskan waktu dan sumber daya keluarga tanpa mempertimbangkan kebutuhan bersama, perlu melakukan evaluasi. Hobi yang sehat bukan hobi yang menjauhkan seseorang dari keluarga, tetapi yang membantu seseorang kembali kepada keluarganya dengan energi dan kebahagiaan yang lebih baik.

Penelitian mengenai keseimbangan peran dalam keluarga menunjukkan bahwa waktu luang yang dinikmati bersama pasangan dan keluarga berkaitan dengan keseimbangan kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, pola waktu luang yang terlalu individual dapat menciptakan ketidakseimbangan dalam kehidupan keluarga.

Karena itu, hobi dapat diubah menjadi berkah dengan beberapa cara:

  1. Melibatkan pasangan dan anak dalam aktivitas tertentu.
  2. Menjadikan hobi sebagai sarana mempererat komunikasi.
  3. Menetapkan batas waktu dan anggaran yang disepakati.
  4. Mengembangkan hobi menjadi keterampilan yang produktif.
  5. Tidak membiarkan hobi mengalahkan tanggung jawab utama.

Bisa jadi kegemaran memasak melahirkan usaha keluarga. Kegemaran membaca melahirkan budaya literasi di rumah. Kegemaran berkebun mengajarkan anak tentang kesabaran. Kegemaran olahraga menjadi waktu berkualitas antara orang tua dan anak.

Dengan demikian, hobi bukan sekadar “kesenangan pribadi”, tetapi dapat menjadi energi positif yang menghidupkan keluarga.

  1. Ajarkan Anak Menabung Sejak Dini

Pendidikan keuangan bukanlah sesuatu yang harus menunggu anak dewasa. Karakter menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, menunda kepuasan, serta bertanggung jawab terhadap uang dapat mulai dikenalkan secara bertahap sejak usia dini.

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا

“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya, karena itu engkau menjadi tercela dan menyesal.”
(QS. Al-Isra’: 29)

Ayat ini mengajarkan prinsip keseimbangan: tidak kikir dan tidak pula berlebihan.

Orang tua dapat memulai pendidikan finansial melalui hal-hal sederhana, seperti memberikan tempat menabung, mengajarkan anak menyisihkan uang, membedakan antara “ingin” dan “butuh”, serta melibatkan anak dalam percakapan sederhana mengenai perencanaan keuangan keluarga sesuai dengan tingkat usianya.

Penelitian psikologi tentang sosialisasi keuangan menunjukkan bahwa pendidikan keuangan yang diterima seseorang dari orang tuanya pada masa kanak-kanak dan remaja berkaitan dengan hasil yang lebih baik ketika memasuki masa dewasa, termasuk kepuasan hidup dan kondisi psikologis.

Bahkan, penelitian lain menunjukkan bahwa cara orang tua menyelesaikan konflik keuangan dapat menjadi bagian dari proses pendidikan finansial anak. Anak tidak hanya belajar dari nasihat tentang uang, tetapi juga dari apa yang mereka lihat: apakah orang tuanya berdiskusi, bernegosiasi, saling menghormati, atau justru bertengkar dan saling menyalahkan.

Maka, pelajaran keuangan terbaik bukan hanya:

“Nak, rajinlah menabung.”

Tetapi juga keteladanan:

“Nak, lihatlah bagaimana Ayah dan Ibu berusaha menggunakan rezeki Allah dengan bijak.”

  1. Kelola Keuangan Bersama, Jangan Menjadikannya Rahasia dan Senjata

Keuangan merupakan salah satu persoalan yang sering memicu ketegangan dalam rumah tangga. Namun, masalahnya tidak selalu semata-mata pada jumlah uang. Sering kali persoalan yang lebih mendalam adalah cara pasangan berkomunikasi tentang uang.

Penelitian mengenai konflik finansial dan kepuasan pernikahan menemukan bahwa komunikasi yang konstruktif dalam menghadapi masalah keuangan berkaitan dengan kepuasan komunikasi finansial dan kepuasan pernikahan yang lebih baik. Sebaliknya, pola komunikasi yang destruktif, saling menuntut lalu menghindar, atau terus-menerus menghindari pembicaraan tentang uang berkaitan dengan ketidakharmonisan dan kepuasan pernikahan yang lebih rendah.

Karena itu, keluarga perlu memiliki ruang musyawarah keuangan. Tidak harus berupa rapat yang formal, tetapi ada waktu untuk berbicara tentang:

  • pendapatan dan prioritas kebutuhan;
  • kebutuhan rutin keluarga;
  • tabungan dan dana darurat;
  • utang atau kewajiban yang harus diselesaikan;
  • pendidikan anak;
  • rencana masa depan.

Allah Swt. memuji orang-orang yang menjalankan urusan mereka dengan musyawarah:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

“Sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura: 38)

Prinsip musyawarah sangat relevan dalam keluarga. Suami dan istri tidak perlu selalu memiliki pendapat yang sama, tetapi keduanya harus merasa didengar, dihargai, dan dilibatkan.

Masalah keuangan hendaknya tidak dijadikan senjata untuk merendahkan pasangan. Kalimat seperti, “Karena uangku lebih banyak, kamu tidak berhak bicara,” hanya akan merusak rasa kemitraan dalam keluarga.

  1. Hadapi Konflik sebagai Masalah Bersama, Bukan Pertarungan Suami Melawan Istri

Konflik dalam rumah tangga adalah bagian dari kehidupan manusia. Dua orang dengan latar belakang keluarga, kebiasaan, karakter, dan cara berpikir yang berbeda tentu berpotensi mengalami perbedaan.

Yang menentukan kualitas pernikahan bukanlah apakah pasangan pernah berkonflik, melainkan bagaimana mereka menghadapi konflik tersebut.

Penelitian psikologi keluarga menunjukkan bahwa interaksi dan komunikasi suami-istri memiliki hubungan penting dengan kehidupan pernikahan. Kurangnya interaksi dan komunikasi dalam berbagai aspek kehidupan keluarga dapat mendorong konflik dan ketidakharmonisan.

Ketika konflik muncul, ubahlah cara pandang:

Bukan aku versus kamu.
Tetapi kita bersama-sama menghadapi masalah.

Hindari memperbesar konflik dengan membuka kesalahan lama, mempermalukan pasangan, menggunakan kata-kata kasar, atau melibatkan anak sebagai alat untuk memenangkan pertengkaran.

Allah Swt. berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 83)

Jika kepada manusia secara umum kita diperintahkan berkata baik, maka kepada pasangan—orang yang hidup paling dekat dengan kita—tentu tuntutan menjaga lisan menjadi semakin penting.

Dalam menghadapi konflik, terkadang pasangan tidak membutuhkan kemenangan. Mereka membutuhkan pemahaman.

  1. Kelembutan adalah Kekuatan, Bukan Kelemahan

Dalam sebagian budaya, seseorang dianggap kuat apabila keras, tegas, dan selalu mampu mendominasi. Padahal, dalam pendidikan Rasulullah saw., kelembutan justru merupakan salah satu bentuk kekuatan akhlak.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.”
(HR. Muslim)

Kelembutan tidak berarti membiarkan kesalahan. Kelembutan adalah kemampuan menyampaikan kebenaran tanpa harus menghancurkan perasaan.

Para ulama menjelaskan bahwa rifq merupakan akhlak yang sangat dianjurkan dalam interaksi. Bahkan nasihat, koreksi, dan pendidikan akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan cara yang bijaksana.

Dalam keluarga, kelembutan dapat hadir dalam bentuk sederhana:

  • mendengarkan pasangan sampai selesai;
  • tidak langsung bereaksi ketika emosi;
  • memilih kata yang baik;
  • memegang tangan pasangan ketika sedang gelisah;
  • meminta maaf tanpa menunggu keadaan semakin buruk.

Kadang-kadang rumah tangga tidak membutuhkan kalimat yang panjang. Ia hanya membutuhkan satu sikap lembut yang mengatakan:

“Aku tahu kamu sedang lelah. Mari kita hadapi ini bersama.”

  1. Jadikan Ketenangan sebagai Budaya Rumah

Rumah seharusnya menjadi tempat pemulihan, bukan sumber ketakutan.

Setiap anggota keluarga tentu ingin pulang ke rumah yang membuatnya merasa aman secara emosional. Anak tidak takut melakukan kesalahan karena akan dibimbing. Istri tidak takut menyampaikan pendapat. Suami tidak takut menceritakan kesulitannya.

Ketenangan tidak berarti rumah tidak pernah gaduh. Anak-anak tentu dapat bermain dan tertawa. Perbedaan pendapat juga tetap mungkin terjadi. Namun, budaya rumah harus dibangun di atas rasa aman, bukan intimidasi.

Allah Swt. berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan pergaulilah mereka dengan cara yang patut.”
(QS. An-Nisa’: 19)

Para mufasir menjelaskan prinsip mu’asyarah bil ma’ruf sebagai kehidupan bersama yang dibangun dengan perlakuan baik, penghormatan, dan kepantasan.

Rumah yang tenang dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil: mengucapkan salam ketika pulang, menanyakan kabar, makan bersama ketika memungkinkan, mengurangi penggunaan gawai saat berbicara, dan menyediakan waktu untuk mendengar cerita anggota keluarga.

Ketenteraman rumah bukan hadir dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari kebiasaan baik yang dilakukan secara berulang.

  1. Jangan Remehkan Senyum: Ia Bisa Menjadi Sedekah

Ada keluarga yang tidak kekurangan kebutuhan, tetapi kekurangan ekspresi kasih sayang. Semua orang sibuk, semua orang bekerja, semua orang memiliki tanggung jawab—tetapi hampir tidak ada yang tersenyum kepada anggota keluarganya sendiri.

Padahal Rasulullah saw. bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.”
(HR. Tirmidzi)

Jika senyum kepada saudara merupakan sedekah, maka senyum kepada pasangan dan anak-anak tentu dapat menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berharga.

Senyum bukan solusi untuk seluruh masalah. Orang yang sedang menghadapi persoalan berat tetap membutuhkan penyelesaian nyata. Namun, senyum dapat menjadi bahasa emosional yang menyampaikan penerimaan dan kehangatan.

Jangan sampai kita ramah kepada semua orang di luar rumah, tetapi membawa wajah paling tegang kepada orang-orang yang paling dekat dengan kita.

Berikan senyum kepada pasangan. Sambut anak-anak dengan wajah yang menyenangkan. Jadikan rumah tempat di mana setiap orang merasa:

“Kehadiranku di sini diterima.”

  1. Berusahalah Sepenuh Hati, Lalu Belajarlah Bertawakal

Tidak semua rencana keluarga akan berjalan sesuai harapan. Ada usaha yang belum berhasil. Ada anak yang membutuhkan perhatian lebih. Ada kebutuhan yang meningkat ketika penghasilan tidak bertambah. Ada masalah yang penyelesaiannya membutuhkan waktu.

Di sinilah tawakal menjadi kekuatan spiritual keluarga.

Allah Swt. berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.”
(QS. At-Talaq: 3)

Tawakal bukan berarti berhenti merencanakan. Bukan pula menyerahkan semua persoalan tanpa ikhtiar.

Ulama seperti Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal berkaitan dengan bersandarnya hati kepada Allah, sementara manusia tetap menjalankan sebab dan ikhtiar yang dibenarkan. Demikian pula Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa tawakal tidak bertentangan dengan usaha; mengambil sebab merupakan bagian dari ketaatan, sedangkan ketergantungan hati tetap hanya kepada Allah.

Karena itu, keluarga yang bertawakal tetap bekerja, menyusun anggaran, mendidik anak, menyelesaikan konflik, mencari pertolongan ketika diperlukan, dan memperbaiki kesalahan.

Namun setelah seluruh ikhtiar dilakukan, keluarga tersebut menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah.

Tawakal mengajarkan kita untuk berkata:

“Kami akan melakukan yang terbaik, tetapi kami tidak akan membiarkan kecemasan menghancurkan iman kami.”

  1. Jangan Berhenti Berdoa agar Rumah Menjadi Jalan Menuju Surga

Nasihat terakhir sekaligus menjadi puncak dari seluruh perjalanan membangun rumah tangga: jangan hanya meminta rumah yang nyaman di dunia, tetapi mintalah keluarga yang menjadi jalan menuju keselamatan di akhirat.

Allah Swt. mengajarkan doa:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)

Inilah doa tentang keluarga yang sangat indah. Bukan hanya meminta pasangan dan anak, tetapi meminta agar mereka menjadi qurrata a’yun, penyejuk mata dan hati.

Rumah yang dirindukan bukan rumah yang penghuninya sempurna. Tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang sempurna, dan tidak ada orang tua yang sempurna.

Namun, rumah yang baik adalah rumah yang penghuninya mau terus belajar.

Belajar meminta maaf.
Belajar memaafkan.
Belajar mengelola uang.
Belajar mengendalikan emosi.
Belajar berbicara dengan lembut.
Belajar tersenyum.
Belajar bersyukur.
Belajar bekerja keras.
Dan belajar menyerahkan hasil kepada Allah.

Penutup: Dari Rumah Biasa Menuju Baiti Jannati

Dua puluh nasihat dalam rangkaian kajian ini pada akhirnya membawa kita kepada satu kesadaran: Baiti Jannati tidak dibangun dalam satu hari.

Ia dibangun dari kata-kata yang dijaga. Dari uang yang dikelola dengan amanah. Dari hobi yang tidak melupakan keluarga. Dari anak-anak yang dididik dengan teladan. Dari konflik yang diselesaikan tanpa saling merendahkan. Dari kelembutan yang dipilih ketika kemarahan sebenarnya lebih mudah dilakukan.

Ia juga dibangun dari senyum, pelukan, doa, dan tawakal.

Kebahagiaan sejati tidak selalu berarti memiliki kehidupan tanpa masalah. Kebahagiaan adalah ketika di tengah masalah, keluarga masih memiliki alasan untuk saling menggenggam dan berkata:

“Kita mungkin belum memiliki semuanya, tetapi selama kita masih bersama dalam kebaikan dan dekat kepada Allah, insya Allah kita sedang berjalan menuju rumah yang dirindukan.”

Semoga Allah menjadikan rumah-rumah kita sebagai tempat tumbuhnya iman, cinta, ketenangan, ilmu, dan keberkahan. Semoga suami dan istri menjadi penyejuk satu sama lain. Semoga anak-anak menjadi generasi yang saleh dan salehah. Dan semoga rumah yang kita bangun di dunia menjadi jalan menuju pertemuan kembali dalam surga-Nya.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا تَمْلَؤُهَا الْمَوَدَّةُ وَالرَّحْمَةُ وَالطَّاعَةُ لَكَ

Ya Allah, perbaikilah pasangan dan keturunan kami, dan jadikanlah rumah-rumah kami rumah yang dipenuhi kasih sayang, rahmat, dan ketaatan kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Oleh: Delpa Firdaus, S. Sy., M. H

Referensi

  1. Al-Qur’an al-Karim.
  2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
  3. Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.
  4. Al-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan al-Tirmidzi.
  5. Saifullah Kamalie, Ph.D. Baiti Jannati.
  6. Novianti, L. E. L., Purba, F. D., Karremans, J. C., & Agustiani, H. “Financial Strain among West-Javanese Parents: Its Association with Marital Satisfaction and Quality of Life, and the Role of Dyadic Coping.” Frontiers in Psychology, 2024. Penelitian ini secara khusus mengkaji 751 pasangan orang tua di Jawa Barat.
  7. Shebib, S., & Cupach, W. “Financial Conflict Messages and Marital Satisfaction: The Mediating Role of Financial Communication Satisfaction.” Psychology, 2018.
  8. LeBaron-Black, A. B. dkk. “Finances and Fate: Parent Financial Socialization, Locus of Control, and Mental Health in Emerging Adulthood.” 2022.
  9. Penelitian tentang konflik finansial orang tua, sosialisasi keuangan, dan kesejahteraan anak dewasa, Journal of Family and Economic Issues, 2024.
  10. Wulansari, D., & Krisnatuti, D. “Marital Interaction and Marital Role on Marital Satisfaction of Dual Earner Family with School Age Children.” Journal of Child, Family, and Consumer Studies.

 

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/rumah-yang-dirindukan-sepuluh-nasihat-penutup-menuju-baiti-jannati/feed 0
Waspada Terhadap Pihak Ketiga Merusak Mahligai Rumah Tangga https://fai.darunnajah.ac.id/waspada-terhadap-pihak-ketiga-merusak-mahligai-rumah-tangga https://fai.darunnajah.ac.id/waspada-terhadap-pihak-ketiga-merusak-mahligai-rumah-tangga#respond Thu, 06 Aug 2026 13:49:35 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/waspada-terhadap-pihak-ketiga-merusak-mahligai-rumah-tangga “Jangan biarkan suara dari luar lebih keras daripada suara pasanganmu.”

Di era media sosial, kehidupan rumah tangga tidak lagi hanya diuji oleh persoalan ekonomi, komunikasi, atau perbedaan karakter. Ada ancaman lain yang sering kali datang secara halus, tetapi memiliki dampak yang sangat besar: intervensi pihak ketiga. Bukan hanya orang ketiga dalam makna perselingkuhan, tetapi juga orang-orang yang gemar membandingkan, menghasut, memberi nasihat tanpa ilmu, hingga membentuk persepsi negatif terhadap pasangan.

Inilah salah satu tema penting yang dibahas dalam Sakinah Talks pada Ahad, 2 Agustus 2026, yang diambil dari buku Baiti Jannati karya Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D.. Melalui kisah para salaf, beliau mengingatkan bahwa banyak rumah tangga tidak runtuh karena masalah besar, tetapi karena hati yang perlahan berubah akibat bisikan orang lain.

Rumah Tangga adalah Amanah yang Sangat Agung

Islam memandang pernikahan bukan sekadar hubungan antara dua manusia, melainkan ikatan suci (mītsāqan ghalīẓan) yang dibangun atas dasar kasih sayang dan rahmat Allah.

Allah Swt. berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

(QS. Ar-Rūm [30]: 21).

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama pernikahan adalah menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah, bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis ataupun sosial.

Namun, sebagaimana dijelaskan dalam Baiti Jannati, ketenangan itu tidak datang tanpa ujian. Justru ketika sebuah keluarga mulai harmonis, berbagai godaan sering kali hadir dari luar rumah.

Belajar dari Abu Muslim al-Khawlānī

Dalam buku tersebut diceritakan kisah seorang tabi’in besar, Abu Muslim al-Khawlānī, yang dikenal sebagai ahli ibadah dan memiliki kehidupan rumah tangga yang sangat harmonis.

Beliau memiliki kebiasaan sederhana. Setiap memasuki rumah, beliau mengucapkan takbir. Ketika istrinya menjawab takbir tersebut, beliau mengetahui bahwa kondisi rumah dalam keadaan baik. Namun suatu hari, tidak ada jawaban dari sang istri. Setelah ditelusuri, ternyata istrinya baru saja dipengaruhi oleh seorang wanita yang menanamkan perasaan bahwa dirinya diperlakukan seperti pembantu di rumah sendiri.

Hanya dengan beberapa kalimat, persepsi yang sebelumnya baik berubah menjadi rasa kecewa.

Kisah ini mengajarkan bahwa musuh terbesar rumah tangga terkadang bukan pasangan sendiri, tetapi persepsi yang dibangun oleh orang lain.

Psikologi Menjelaskan Mengapa Bisikan Itu Berbahaya

Temuan ini ternyata sejalan dengan penelitian psikologi modern.

Psikolog Amerika John Gottman, melalui penelitiannya mengenai stabilitas pernikahan, menjelaskan bahwa pasangan yang mampu bertahan bukan karena mereka tidak memiliki konflik, melainkan karena mereka menjaga komunikasi positif dan tidak membiarkan pengaruh luar mengendalikan hubungan mereka.

Sementara itu, Dr. Sue Johnson, penggagas Emotionally Focused Therapy (EFT), menyatakan bahwa rasa aman dalam hubungan akan rusak ketika pasangan mulai kehilangan kepercayaan dan lebih mempercayai narasi dari luar dibandingkan komunikasi langsung dengan pasangannya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Dr. Gary Chapman, penulis The Five Love Languages. Menurutnya, kebutuhan terbesar pasangan bukanlah materi, tetapi merasa dipahami, dihargai, dan dicintai. Ketika kebutuhan emosional ini tidak dipenuhi, seseorang menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh pihak luar.

Artinya, apa yang telah dijelaskan oleh para ulama sejak berabad-abad lalu ternyata sejalan dengan temuan ilmu psikologi modern.

Iblis Sangat Menyukai Perceraian

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa salah satu misi terbesar setan adalah memisahkan suami dan istri.

Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu mengirim bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang datang dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang yang lain dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya hingga berhasil memisahkan antara seorang suami dan istrinya.’ Maka Iblis mendekatkannya dan berkata, ‘Engkau yang terbaik.'”
(HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa merusak rumah tangga merupakan salah satu keberhasilan terbesar Iblis.

Karena itu, Al-Qur’an juga mengingatkan agar manusia berlindung dari bisikan-bisikan yang merusak hubungan antarsesama (QS. An-Nās: 4–6).

Perspektif Ulama: Menjaga Rahasia Rumah Tangga adalah Kewajiban

Dalam perspektif hukum Islam, para ulama menjelaskan bahwa menjaga kehormatan rumah tangga termasuk bagian dari ḥifẓ al-‘irdh (menjaga kehormatan), salah satu tujuan penting syariat.

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadis tentang larangan membuka rahasia pasangan menegaskan bahwa menyebarkan persoalan rumah tangga kepada orang yang tidak berkepentingan merupakan perbuatan tercela karena dapat menghilangkan kepercayaan dalam keluarga.

Sementara itu, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menjelaskan bahwa salah satu bentuk mu’āsyarah bil ma’rūf adalah menjaga kehormatan pasangan, termasuk tidak mempermalukannya di hadapan orang lain.

Dengan demikian, curhat kepada orang yang salah bukan sekadar persoalan etika, tetapi juga dapat bertentangan dengan nilai-nilai syariat apabila membuka aib pasangan tanpa alasan yang dibenarkan.

Apa yang Harus Dilakukan Pasangan?

Buku Baiti Jannati memberikan beberapa langkah preventif yang sangat relevan dengan kehidupan keluarga masa kini.

Pertama, membangun komunikasi harian. Pasangan perlu memiliki waktu khusus untuk saling bertanya tentang kondisi hati, bukan hanya membicarakan kebutuhan rumah tangga.

Kedua, mengenali perubahan emosional pasangan. Perubahan kecil sering kali menjadi tanda awal adanya masalah yang lebih besar.

Ketiga, menjaga privasi keluarga. Tidak semua persoalan layak dipublikasikan kepada teman, media sosial, atau bahkan keluarga besar.

Keempat, memperbanyak doa. Abu Muslim al-Khawlānī tidak membalas pengaruh buruk dengan kemarahan, melainkan dengan doa dan tawakal kepada Allah.

Jadikan Rumah Sebagai Surga Dunia

Pada akhirnya, rumah yang bahagia bukanlah rumah tanpa masalah. Rumah yang bahagia adalah rumah yang menjadikan iman sebagai fondasi, ilmu sebagai cahaya, ketakwaan sebagai pagar, komunikasi sebagai jembatan, dan doa sebagai penguat hubungan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Baiti Jannati, surga dunia tidak hadir karena pasangan yang sempurna, tetapi karena dua orang yang terus memilih untuk menjaga amanah pernikahan setiap hari. Ketika iman, ilmu, dan ketakwaan menjadi pondasi keluarga, maka rumah akan menjadi tempat pulang yang menenangkan sekaligus menjadi madrasah pertama bagi lahirnya generasi terbaik.

Penutup

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, setiap pasangan perlu lebih selektif terhadap suara-suara yang masuk ke dalam rumah tangga. Jangan sampai komentar orang lain lebih dipercaya daripada pasangan sendiri.

Mari menjadikan keluarga sebagai Baiti Jannati—rumah yang dipenuhi zikir, dihiasi komunikasi yang sehat, dikuatkan oleh ilmu, dijaga dengan ketakwaan, dan selalu bergantung kepada pertolongan Allah. Karena rumah yang baik bukan hanya melahirkan keluarga yang bahagia, tetapi juga melahirkan peradaban yang mulia.

Oleh. Delpa Firdaus, M. H

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/waspada-terhadap-pihak-ketiga-merusak-mahligai-rumah-tangga/feed 0
Muhasabah Istri sebagai Fondasi Membangun Keluarga Sakinah: Refleksi Spiritual Menuju Keharmonisan Rumah Tangga https://fai.darunnajah.ac.id/muhasabah-istri-sebagai-fondasi-membangun-keluarga-sakinah-refleksi-spiritual-menuju-keharmonisan-rumah-tangga https://fai.darunnajah.ac.id/muhasabah-istri-sebagai-fondasi-membangun-keluarga-sakinah-refleksi-spiritual-menuju-keharmonisan-rumah-tangga#respond Thu, 30 Jul 2026 08:40:46 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/muhasabah-istri-sebagai-fondasi-membangun-keluarga-sakinah-refleksi-spiritual-menuju-keharmonisan-rumah-tangga Islam memandang pernikahan sebagai sebuah ibadah yang memiliki tujuan luhur, yaitu membangun kehidupan yang penuh ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Allah Swt. berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan rumah tangga bukanlah sesuatu yang hadir secara otomatis, melainkan harus terus dipelihara melalui komitmen, komunikasi, serta perbaikan diri yang berkesinambungan.

Dalam konteks tersebut, muhasabah menjadi salah satu konsep penting dalam pendidikan Islam. Muhasabah merupakan aktivitas mengevaluasi diri terhadap seluruh amal, sikap, dan perilaku sebelum seseorang dihisab oleh Allah pada hari akhir. Konsep ini tidak hanya berlaku dalam kehidupan pribadi, tetapi juga dalam kehidupan keluarga.

Buku Baiti Jannati karya Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D. menghadirkan pendekatan yang sangat menarik melalui “100 Pertanyaan Muhasabah untuk Istri”. Penulis tidak menyampaikan nasihat dalam bentuk perintah, melainkan melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang mengajak setiap istri melakukan introspeksi secara jujur terhadap kualitas dirinya sebagai pendamping hidup. Penulis menegaskan bahwa muhasabah bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai sarana bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Muhasabah dalam Perspektif Islam

Secara bahasa, muhasabah berasal dari kata hasaba yang berarti menghitung atau mengevaluasi. Dalam terminologi Islam, muhasabah berarti proses mengoreksi diri terhadap amal yang telah dilakukan agar senantiasa berada di jalan yang diridhai Allah.

Umar bin Khattab ra. pernah berkata:

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”

Perkataan tersebut menjadi dasar penting bahwa seorang muslim tidak boleh merasa puas terhadap amal yang telah dilakukan, tetapi senantiasa memperbaiki kualitas dirinya.

Dalam rumah tangga, muhasabah menjadi sarana untuk mengevaluasi sejauh mana hak dan kewajiban pasangan telah dilaksanakan secara optimal.

 

Muhasabah sebagai Pendidikan Karakter Seorang Istri

Salah satu keunggulan buku Baiti Jannati adalah penyusunan seratus pertanyaan yang dibagi ke dalam lima dimensi utama kehidupan rumah tangga, yaitu:

  1. Cinta dan kelembutan.
  2. Rumah dan keharmonisan.
  3. Ketaatan dan tanggung jawab.
  4. Adab, akhlak, serta kesabaran.
  5. Keimanan dan visi rumah tangga.
    Pembagian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan seorang istri tidak hanya diukur dari kemampuan mengurus pekerjaan domestik, tetapi juga dari kualitas spiritual, emosional, intelektual, dan sosialnya.

Pertanyaan-pertanyaan yang disusun penulis mendorong lahirnya kesadaran bahwa cinta bukan hanya perasaan, melainkan pilihan yang harus diperbarui setiap hari melalui perhatian, penghormatan, doa, komunikasi yang lembut, dan pelayanan yang penuh keikhlasan. Hal ini tampak dari bagian awal buku yang mengajak istri menjadi sumber ketenangan, menjaga rahasia suami, menghiasi diri dengan akhlak mulia, serta terus berupaya membahagiakan pasangan.

Rumah Tangga sebagai Madrasah Pertama

Buku ini juga menegaskan bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan pusat pendidikan iman.

Penulis menekankan pentingnya menjaga kebersihan rumah, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, menghadirkan suasana yang tenang, mengelola keuangan secara bijaksana, serta menjaga rumah dari berbagai bentuk kemaksiatan. Rumah yang dipenuhi dzikir akan menghadirkan keberkahan dan ketenteraman bagi seluruh anggota keluarga.

Konsep tersebut selaras dengan firman Allah Swt.:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang menentukan kualitas generasi berikutnya.

Akhlak sebagai Pilar Keharmonisan Pernikahan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

Hadis tersebut memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang tidak hanya dilihat dari ibadah ritual, tetapi juga dari kualitas akhlaknya di dalam rumah.

Dalam buku Baiti Jannati, aspek akhlak mendapat perhatian yang sangat besar. Penulis mengajak istri untuk menjaga lisan, tidak mempermalukan suami, mudah meminta maaf, bersabar terhadap kekurangan pasangan, serta membangun komunikasi yang penuh kelembutan. Semua itu dipandang sebagai bentuk ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah.
Konsep ini diperkuat oleh hadis Rasulullah ﷺ:

“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya.” (HR. Muslim).

Dengan demikian, kelembutan bukan sekadar sifat pribadi, melainkan strategi pendidikan keluarga yang mampu memperkuat ikatan emosional antara suami, istri, dan anak.

Muhasabah sebagai Sarana Membangun Keluarga Sakinah

Yang menarik dari buku ini adalah penulis tidak menempatkan muhasabah sebagai alat untuk menyalahkan perempuan.

Sebaliknya, muhasabah dipahami sebagai bentuk cinta kepada diri sendiri dan kepada keluarga. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun bertujuan membantu istri melihat ruang-ruang perbaikan sehingga mampu menjadi pribadi yang semakin bertakwa dan semakin dicintai keluarganya.

Pada bagian penutup, penulis menegaskan bahwa tidak ada istri maupun suami yang sempurna. Yang membedakan manusia adalah kemauan untuk terus memperbaiki diri melalui evaluasi yang berkesinambungan. Penulis juga mengutip pandangan Imam Al-Ghazali bahwa hati yang senantiasa bermuhasabah adalah hati yang hidup.

Paradigma tersebut sangat relevan dengan pendekatan psikologi keluarga modern yang menempatkan refleksi diri (self-reflection) sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas hubungan interpersonal.

Penutup

Muhasabah merupakan salah satu instrumen pendidikan ruhani yang sangat penting dalam membangun keluarga Islami. Buku Baiti Jannati karya Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D. menghadirkan pendekatan yang unik melalui seratus pertanyaan reflektif yang mengajak setiap istri mengevaluasi kualitas cinta, tanggung jawab, akhlak, serta hubungan spiritualnya dengan Allah dan keluarganya.

Muhasabah yang dilakukan secara konsisten akan melahirkan pribadi yang rendah hati, mudah memperbaiki kesalahan, serta mampu menciptakan rumah tangga yang dipenuhi ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan. Pada akhirnya, tujuan pernikahan dalam Islam bukan hanya kebahagiaan dunia, tetapi juga kebersamaan menuju ridha Allah dan surga-Nya.

Oleh: Delpa Firdaus, S.Sy., M.H

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/muhasabah-istri-sebagai-fondasi-membangun-keluarga-sakinah-refleksi-spiritual-menuju-keharmonisan-rumah-tangga/feed 0
Memperingati Hari Keluarga Nasional 29 Juni: Sakinah Family Center Universitas Darunnajah Hadir Menguatkan Keluarga Indonesia https://fai.darunnajah.ac.id/memperingati-hari-keluarga-nasional-29-juni-sakinah-family-center-universitas-darunnajah-hadir-menguatkan-keluarga-indonesia https://fai.darunnajah.ac.id/memperingati-hari-keluarga-nasional-29-juni-sakinah-family-center-universitas-darunnajah-hadir-menguatkan-keluarga-indonesia#respond Mon, 29 Jun 2026 15:04:31 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/memperingati-hari-keluarga-nasional-29-juni-sakinah-family-center-universitas-darunnajah-hadir-menguatkan-keluarga-indonesia Jakarta, 29 Juni 2026 — Setiap tanggal 29 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) sebagai momentum untuk kembali meneguhkan peran keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat yang kuat, berakhlak, dan sejahtera. Keluarga yang harmonis tidak hanya menjadi tempat bertumbuhnya generasi penerus bangsa, tetapi juga menjadi madrasah pertama dalam menanamkan nilai-nilai keimanan, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Dalam semangat peringatan Hari Keluarga Nasional tahun ini, Sakinah Family Center Universitas Darunnajah terus berkomitmen menghadirkan berbagai program edukasi, dakwah, dan pendampingan keluarga untuk membantu masyarakat mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Sebagai pusat kajian dan pengembangan keluarga di lingkungan Universitas Darunnajah, Sakinah Family Center berupaya menjadi ruang belajar bagi pasangan suami istri, calon pengantin, orang tua, serta masyarakat luas melalui berbagai kegiatan, seperti webinar, kajian rutin, pelatihan, konsultasi keluarga, hingga publikasi artikel yang mengangkat nilai-nilai keluarga Islami.

Berbagai program tersebut diharapkan mampu memberikan bekal ilmu, memperkuat komunikasi dalam rumah tangga, serta menumbuhkan kesadaran bahwa membangun keluarga yang harmonis merupakan ikhtiar yang memerlukan ilmu, kesabaran, dan komitmen bersama.

Momentum Hari Keluarga Nasional juga menjadi pengingat bahwa ketahanan keluarga merupakan tanggung jawab bersama. Ketika keluarga tumbuh dalam suasana cinta, saling menghormati, dan berlandaskan nilai-nilai Islam, maka akan lahir generasi yang berakhlak mulia dan mampu memberikan kontribusi terbaik bagi agama, bangsa, dan negara.

Sakinah Family Center Universitas Darunnajah mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk terus belajar, saling menguatkan, dan menjadikan rumah sebagai tempat terbaik untuk bertumbuh dalam keimanan dan kasih sayang.

Semoga setiap langkah dan program yang dihadirkan oleh Sakinah Family Center Universitas Darunnajah senantiasa memberikan manfaat, menjadi inspirasi, serta menghadirkan keberkahan bagi keluarga-keluarga di seluruh Indonesia. Dengan keluarga yang kuat, harmonis, dan penuh rahmat Allah, insya Allah akan terwujud masyarakat yang lebih baik dan Indonesia yang semakin maju.

Selamat Memperingati Hari Keluarga Nasional 29 Juni 2026.

“Mari bersama membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah demi lahirnya generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.”

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/memperingati-hari-keluarga-nasional-29-juni-sakinah-family-center-universitas-darunnajah-hadir-menguatkan-keluarga-indonesia/feed 0
Muhasabah Istri dalam Membangun Keluarga Sakinah: Refleksi Cinta, Kelembutan, dan Ketahanan Rumah Tangga Islami https://fai.darunnajah.ac.id/muhasabah-istri-dalam-membangun-keluarga-sakinah-refleksi-cinta-kelembutan-dan-ketahanan-rumah-tangga-islami https://fai.darunnajah.ac.id/muhasabah-istri-dalam-membangun-keluarga-sakinah-refleksi-cinta-kelembutan-dan-ketahanan-rumah-tangga-islami#respond Sat, 27 Jun 2026 16:40:25 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/muhasabah-istri-dalam-membangun-keluarga-sakinah-refleksi-cinta-kelembutan-dan-ketahanan-rumah-tangga-islami Pendahuluan

Pernikahan dalam Islam bukan sekadar ikatan sosial antara laki-laki dan perempuan, melainkan sebuah mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kokoh) yang dibangun atas dasar iman, kasih sayang, dan tanggung jawab. Tujuan utama pernikahan adalah mewujudkan keluarga yang menghadirkan ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan cinta yang penuh rahmat (rahmah), sebagaimana ditegaskan Allah Swt. dalam QS. Ar-Rum ayat 21.

Dalam upaya mewujudkan keluarga yang harmonis, setiap pasangan dituntut untuk senantiasa melakukan evaluasi diri. Tradisi evaluasi diri atau muhasabah merupakan salah satu karakter penting yang diajarkan dalam Islam. Umar bin Khattab ra. pernah berpesan, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam hubungan seorang hamba dengan Allah, tetapi juga dalam hubungan antarmanusia, termasuk dalam kehidupan rumah tangga.

Salah satu bentuk muhasabah yang sangat relevan bagi kehidupan keluarga adalah refleksi seorang istri terhadap perannya dalam rumah tangga. Sebagaimana dijelaskan oleh Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D. dalam buku Baiti Jannati, seorang istri perlu secara berkala menilai kembali kualitas cinta, perhatian, dan pengabdiannya kepada suami agar hubungan yang terjalin tidak kehilangan kehangatan dan makna.

Artikel ini membahas pentingnya muhasabah istri dalam membangun keluarga sakinah dengan menjadikan tulisan “100 Pertanyaan Muhasabah untuk Istri” dalam buku Baiti Jannati sebagai referensi utama, serta diperkaya dengan perspektif Islam dan kajian keluarga kontemporer.

Muhasabah sebagai Fondasi Perbaikan Diri

Muhasabah merupakan proses refleksi yang mendorong seseorang untuk mengenali kekurangan, memperbaiki kesalahan, dan meningkatkan kualitas dirinya. Dalam konteks rumah tangga, muhasabah membantu pasangan untuk tidak terjebak dalam rutinitas yang membuat hubungan menjadi hambar.

Menurut Ust.Saifullah Kamalie, Ph. D dalam buku  Baiti Jannati, seorang istri hendaknya tidak hanya menilai dirinya berdasarkan tugas-tugas domestik yang telah dilakukan, tetapi juga meninjau sejauh mana dirinya telah menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan bagi suami. Pertanyaan-pertanyaan muhasabah yang disusun dalam buku tersebut bukan dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa bersalah, melainkan untuk mendorong pertumbuhan spiritual dan emosional dalam kehidupan berumah tangga.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep continuous improvement dalam psikologi keluarga modern yang menekankan pentingnya evaluasi diri secara berkala guna menjaga kualitas hubungan pernikahan.

Cinta dan Kelembutan sebagai Pilar Keharmonisan

Bagian pertama dari “100 Pertanyaan Muhasabah untuk Istri” berfokus pada aspek cinta dan kelembutan. Tema ini menunjukkan bahwa keharmonisan rumah tangga sesungguhnya dibangun dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Pertanyaan seperti:

  • Apakah engkau menjadi tempat kasih sayang dan ketenangan bagi suamimu?
  • Apakah engkau mendoakannya setiap hari?
  • Apakah engkau memilih kata-kata yang lembut dalam setiap percakapan?
  • Apakah engkau ikut hadir dalam kebahagiaan dan kesedihannya?

menggambarkan bahwa cinta dalam Islam bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata yang diwujudkan dalam perhatian, penghargaan, dan kepedulian.

Dalam perspektif psikologi keluarga, pasangan yang secara aktif menunjukkan afeksi dan penghargaan cenderung memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang lebih tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh psikolog keluarga John Gottman menunjukkan bahwa hubungan yang langgeng ditandai oleh dominasi interaksi positif dibandingkan interaksi negatif. Bentuk interaksi positif tersebut dapat berupa senyuman, pujian, ungkapan terima kasih, perhatian terhadap kebutuhan pasangan, dan dukungan emosional.

Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan kelembutan sebagai karakter utama dalam hubungan suami istri. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Artinya:

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim No. 2594)

Dengan demikian, kelembutan bukan hanya akhlak yang mulia, tetapi juga instrumen penting dalam menjaga kualitas hubungan pernikahan.

Menjadi Sumber Ketenangan bagi Suami

Salah satu pesan penting yang muncul dalam muhasabah tersebut adalah peran istri sebagai sumber ketenangan (sakinah) bagi suami. Al-Qur’an menjelaskan bahwa pasangan diciptakan agar manusia memperoleh ketenteraman dalam kehidupan.

Ketenangan yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik rumah yang nyaman, tetapi juga suasana emosional yang mendukung. Suami yang menghadapi tekanan pekerjaan, tantangan ekonomi, maupun problem kehidupan membutuhkan rumah sebagai tempat kembali yang menghadirkan rasa aman dan diterima.

Dalam buku Baiti Jannati, refleksi mengenai senyuman, sambutan hangat, doa, dan perhatian kepada suami menunjukkan bahwa hal-hal sederhana memiliki dampak besar terhadap kualitas hubungan. Banyak penelitian keluarga modern juga membuktikan bahwa dukungan emosional dari pasangan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan ketahanan keluarga menghadapi berbagai krisis.

Karena itu, menjadi sumber ketenangan bukan berarti menghilangkan seluruh masalah dalam rumah tangga, melainkan menghadirkan suasana yang membuat pasangan merasa dicintai dan dihargai.

 

Pentingnya Apresiasi dan Penghargaan dalam Pernikahan

Pertanyaan muhasabah yang menyinggung tentang memuji suami, mengingat kebaikannya, serta menghargai usaha-usahanya menunjukkan pentingnya budaya apresiasi dalam rumah tangga.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit pasangan yang lebih mudah mengingat kekurangan daripada kelebihan pasangannya. Akibatnya, hubungan menjadi dipenuhi kritik dan keluhan. Islam mengajarkan sebaliknya, yaitu membangun rumah tangga dengan rasa syukur dan penghargaan.

Rasulullah ﷺ memberikan teladan bagaimana beliau menghargai para istrinya dan mengingat kebaikan mereka. Demikian pula seorang istri dianjurkan untuk menghargai usaha dan pengorbanan suami.

Apresiasi memiliki dampak psikologis yang sangat besar. Ketika seseorang merasa dihargai, ia akan terdorong untuk memberikan kontribusi yang lebih baik dalam hubungan. Oleh karena itu, ucapan sederhana seperti “terima kasih”, “aku bangga padamu”, atau “semoga Allah membalas kebaikanmu” dapat menjadi energi positif yang memperkuat ikatan pernikahan.

Menjaga Daya Tarik dan Kehangatan Hubungan

Salah satu poin menarik dalam muhasabah tersebut adalah ajakan bagi istri untuk menjaga penampilan dan berusaha menyenangkan pasangan. Dalam Islam, berhias untuk suami termasuk bentuk ibadah yang bernilai pahala apabila diniatkan untuk menjaga keharmonisan keluarga.

Namun demikian, daya tarik dalam pernikahan tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik. Ust.Saifullah Kamalie, Ph. D menekankan pentingnya menghiasi diri dengan akhlak yang baik. Penampilan yang menarik akan semakin bermakna apabila disertai kelembutan, kesabaran, kejujuran, dan sikap penuh kasih.

Kajian keluarga modern juga menunjukkan bahwa keberlangsungan pernikahan lebih banyak ditentukan oleh kualitas komunikasi dan kedekatan emosional dibandingkan faktor fisik semata. Oleh sebab itu, menjaga daya tarik berarti merawat keseluruhan kualitas diri, baik lahir maupun batin.

Cinta sebagai Pilihan yang Diperbarui Setiap Hari

Salah satu gagasan yang sangat mendalam dalam muhasabah tersebut adalah pernyataan bahwa cinta sejati bukan sekadar perasaan, tetapi pilihan yang harus diperbarui setiap hari.

Pandangan ini sesuai dengan konsep Islam tentang komitmen dalam pernikahan. Perasaan cinta dapat mengalami pasang surut, tetapi komitmen untuk tetap berbuat baik kepada pasangan harus terus dijaga. Oleh karena itu, pasangan yang berhasil mempertahankan rumah tangganya selama bertahun-tahun bukanlah mereka yang selalu merasakan romantisme yang sama setiap saat, melainkan mereka yang terus memilih untuk mencintai, memaafkan, dan memperbaiki diri.

Muhasabah menjadi sarana untuk memastikan bahwa pilihan tersebut tetap hidup dalam diri seorang istri. Dengan terus mengevaluasi sikap, perkataan, dan perilaku, seorang istri dapat menjaga kualitas cintanya agar terus tumbuh dan berkembang.

 

Penutup

Muhasabah merupakan salah satu sarana efektif untuk membangun keluarga yang harmonis dan penuh keberkahan. Melalui refleksi yang disajikan dalam buku Baiti Jannati karya Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D., para istri diajak untuk meninjau kembali kualitas cinta, perhatian, kelembutan, dan pengabdiannya dalam rumah tangga.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan pernikahan tidak dibangun oleh peristiwa-peristiwa besar semata, melainkan oleh tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten: senyuman yang tulus, doa yang tidak pernah putus, penghargaan terhadap pasangan, serta kesediaan untuk terus memperbaiki diri.

Pada akhirnya, muhasabah bukanlah sarana untuk mencari kesalahan diri, melainkan jalan menuju pertumbuhan. Ketika seorang istri terus berupaya menjadi lebih baik, ia tidak hanya memperkuat hubungan dengan suaminya, tetapi juga sedang membangun sebuah rumah tangga yang lebih dekat dengan cita-cita Islam: keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Penulis: Delpa Firdaus

 

Referensi

  1. Kamalie, Saifullah. Baiti Jannati. Jakarta: Penerbit Baiti Jannati.
  2. Al-Qur’an Al-Karim, QS. Ar-Rum: 21.
  3. Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah.
  4. Gottman, John M. The Seven Principles for Making Marriage Work. New York: Harmony Books.
  5. Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumuddin, Bab Adab Pernikahan. Bottom of Form

 

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/muhasabah-istri-dalam-membangun-keluarga-sakinah-refleksi-cinta-kelembutan-dan-ketahanan-rumah-tangga-islami/feed 0
Sakinah Talks Sesi 4: Belajar Membangun Pernikahan dari Keteladanan Asma binti Abi Bakar dan Fatimah Az-Zahra https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-sesi-4-belajar-membangun-pernikahan-dari-keteladanan-asma-binti-abi-bakar-dan-fatimah-az-zahra https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-sesi-4-belajar-membangun-pernikahan-dari-keteladanan-asma-binti-abi-bakar-dan-fatimah-az-zahra#respond Mon, 15 Jun 2026 11:24:47 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-sesi-4-belajar-membangun-pernikahan-dari-keteladanan-asma-binti-abi-bakar-dan-fatimah-az-zahra Jakarta, 14 Juni 2026 – Sakinah Family Center Universitas Darunnajah kembali menyelenggarakan Sakinah Talks Sesi 4 pada Ahad (14/6/2026) pukul 05.30–06.30 WIB melalui Google Meet. Kajian yang berlangsung secara daring ini menghadirkan Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D. sebagai narasumber dengan tema “Lanjutan Belajar Menikah dari Sejarah Terbaik”, yang merupakan pembahasan lanjutan Bab 1 dari buku Baiti Jannati karya beliau.

Kegiatan yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah ini mengajak para peserta untuk mengambil pelajaran berharga dari rumah tangga para teladan umat Islam. Dalam sesi kali ini, Ust. Saifullah Kamalie mengupas dua kisah pernikahan yang sarat hikmah, yaitu rumah tangga Asma binti Abi Bakar dan Az-Zubair bin Al-Awwam, serta rumah tangga Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.

Pada pembahasan pertama, peserta diajak mengenal kisah pernikahan Asma binti Abi Bakar dan Az-Zubair yang dibangun di atas semangat pengorbanan, kesabaran, dan perjuangan bersama. Ust. Saifullah menjelaskan bahwa kehidupan rumah tangga tidak selalu dimulai dengan kemapanan materi, tetapi dapat bertumbuh melalui kerja sama, keteguhan hati, dan kesediaan pasangan untuk saling mendukung dalam menghadapi berbagai keterbatasan.

Kisah Asma dan Az-Zubair menunjukkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang kebahagiaan yang dirasakan saat kondisi ideal, tetapi juga tentang kesanggupan untuk tetap bertahan dan saling menguatkan ketika menghadapi ujian kehidupan. Pengorbanan yang dilakukan demi keluarga menjadi salah satu fondasi yang mengokohkan pernikahan mereka.

Pada pembahasan kedua, Ust. Saifullah mengangkat keteladanan rumah tangga Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib, yang dibangun di atas kesederhanaan dan doa. Meski hidup dalam keterbatasan, pasangan mulia ini mampu menghadirkan ketenangan dan keberkahan dalam rumah tangga mereka. Kesederhanaan tidak menjadi penghalang untuk meraih kebahagiaan, karena yang menjadi kekuatan utama adalah keimanan, rasa syukur, dan kedekatan kepada Allah SWT.

Melalui kisah tersebut, peserta diajak untuk memahami bahwa keberhasilan rumah tangga tidak diukur dari kemewahan yang dimiliki, melainkan dari kualitas hubungan dengan Allah, kemampuan menjaga komunikasi yang baik, serta kesediaan untuk terus bertumbuh bersama pasangan.

Kajian berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta tidak hanya mendapatkan wawasan sejarah, tetapi juga refleksi praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan rumah tangga masa kini. Materi yang disampaikan menjadi pengingat bahwa membangun keluarga sakinah membutuhkan kesabaran, pengorbanan, kesederhanaan, serta komitmen untuk terus memperbaiki diri.

Sakinah Family Center mengajak seluruh peserta untuk kembali bergabung pada Sakinah Talks Sesi 5 yang akan dilaksanakan pekan depan. Pada pertemuan berikutnya, Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D. akan mulai membahas Bab 2 buku Baiti Jannati dengan tema “100 Pertanyaan Muhasabah untuk Istri.” Sesi ini diharapkan menjadi sarana refleksi bagi para istri maupun calon istri untuk mengenali diri, memperbaiki kualitas hubungan dalam rumah tangga, serta menumbuhkan kesadaran akan peran penting seorang perempuan dalam membangun keluarga yang harmonis dan penuh keberkahan.

Mari terus belajar bersama, mengambil hikmah dari sejarah terbaik, dan menyiapkan keluarga menuju rumah tangga yang lebih sakinah, mawaddah, dan rahmah.

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-sesi-4-belajar-membangun-pernikahan-dari-keteladanan-asma-binti-abi-bakar-dan-fatimah-az-zahra/feed 0
Kisah Pertama: Khadijah raḍiyallāhu ‘anhā https://fai.darunnajah.ac.id/kisah-pertama-khadijah-ra%e1%b8%8diyallahu-anha https://fai.darunnajah.ac.id/kisah-pertama-khadijah-ra%e1%b8%8diyallahu-anha#respond Thu, 11 Jun 2026 13:37:55 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/kisah-pertama-khadijah-ra%e1%b8%8diyallahu-anha Pernikahan yang Dibangun di Atas Kepercayaan

Memilih Pasangan dengan Mengunakan Akal dan Hati

Khadijah binti Khuwailid atau secara lengkap Khaḍījah bint Khuwailid raḍiyallāhu ‘anhā dikenal sebagai perempuan terpandang dari kalangan Quraisy. Ia memiliki kehormatan nasab, kecerdasan berdagang, serta kekayaan yang menjadikannya figur terhormat di Makkah. Banyak lelaki bangsawan berharap dapat mempersuntingnya (Ibnu Hisyām, al-Sīrah al-Nabawiyyah).

Namun pilihannya justru jatuh kepada Muhammad, seorang pemuda berusia 25 tahun yang saat itu belum dikenal sebagai orang kaya raya. Yang menjadi pertimbangannya bukanlah harta atau status sosial, melainkan kejujuran dan kemuliaan akhlaknya. Muhammad dikenal dengan gelar al-Amīn—yang terpercaya—karena integritasnya dalam berdagang (Ibnu Ishāq; al-Bukhārī).

Khadijah mendengar langsung laporan tentang kejujuran Muhammad dalam perjalanan dagang ke Syam. Ia kemudian mengutus Nafisah binti Munyah untuk menyampaikan niat baiknya. Keputusan ini menunjukkan bahwa sejak awal, fondasi pernikahan mereka dibangun di atas karakter, bukan kepentingan duniawi semata.

Pelajaran Pertama: Pelajaran yang dapat diambil dari kisah Khadijah adalah dalam memilih pasangan, akhlak merupakan pertimbangan yang utama. Sebagaimana dalam hadis: Akhlak adalah fondasi rumah tangga. Harta dapat berkurang, kedudukan dapat berubah, tetapi karakter mulia akan tetap menjadi penopang ketika ujian datang (HR. Muslim No. 1467).

Usia Tidak Menghalangi Pernikahan

Saat pernikahan itu terjadi, Khadijah berusia sekitar 40 tahun, sementara Muhammad berusia 25 tahun (al-Mubārakfūrī, al-Raḥīq al-Makhtūm). Perbedaan usia lima belas tahun tidak menjadi penghalang bagi keharmonisan mereka.

Dari pernikahan tersebut lahir enam anak: al-Qāsim, ‘Abdullāh, Zaynab, Ruqayyah, Ummu Kultsūm, dan Fāṭimah al-Zahrā’ (Ibn Sa‘d, al-Ṭabaqāt al-Kubrā). Selama kurang lebih dua puluh lima tahun, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak menikah lagi hingga wafatnya Khadijah (al-Bukhārī).

Fakta ini menunjukkan bahwa cinta dalam Islam tidak dibatasi oleh ukuran-ukuran duniawi seperti usia atau penampilan. Ia dibangun atas dasar kesetiaan, rasa hormat, dan visi hidup yang sama.

Pelajaran kedua: pelajaran yang selaras dengan pemilihan usia tersebut, jangan menjadikan standar sosial yang dangkal menghalangi kebaikan yang Allah takdirkan. Tujuan pernikahan adalah terwujudnya sakinah, mawaddah, dan raḥmah (QS. ar-Rūm: 21).

 

Hadir dalam Perjuangan Pasangan

Peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Ḥirā’ merupakan momen yang sangat menentukan. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pulang dalam keadaan gemetar seraya berkata, “Zammilūnī, zammilūnī” (Selimuti aku, selimuti aku) (HR. al-Bukhārī No. 3; Muslim No. 247).

Di saat genting itulah Khadijah menunjukkan keteguhan imannya. Ia tidak meragukan, tidak menyalahkan, dan tidak panik. Ia berkata:

كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahim, menanggung orang lemah, memberi kepada yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah.” (HR. al-Bukhārī No. 3)

Ia kemudian membawa Rasulullah kepada Waraqah bin Naufal untuk meminta penjelasan tentang peristiwa tersebut (Ibnu Hisyām).

Bahkan setelah Khadijah wafat, Rasulullah tetap mengenangnya dengan penuh cinta. Ketika Aisyah binti Abu Bakar merasa cemburu, beliau menjelaskan bahwa Khadijah beriman kepadanya saat orang lain mengingkari, membenarkannya saat orang lain mendustakan, dan menolongnya dengan harta ketika orang lain menolak (HR. al-Bukhārī No. 3814; Muslim No. 2438).

Di sinilah terlihat bahwa kekuatan rumah tangga tidak diukur saat keadaan lapang, tetapi saat badai datang.

Pelajaran ketiga: Pelajaran yang dapat diambil yaitu menjadi pasangan yang menenangkan ketika ujian datang. Rumah tangga yang kokoh adalah rumah yang saling menguatkan dalam kesulitan.

Diambil dari buku Baiti Jannati karya Ust Saifullah Kamalie, Ph. D

Penulis: Delpa Firdaus

Editor: dpl

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/kisah-pertama-khadijah-ra%e1%b8%8diyallahu-anha/feed 0
Sakinah Talks Bahas “Lanjutan Belajar Menikah dari Sejarah Terbaik”, Peserta Antusias Berdiskusi Seputar Kehidupan Rumah Tangga https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-bahas-lanjutan-belajar-menikah-dari-sejarah-terbaik-peserta-antusias-berdiskusi-seputar-kehidupan-rumah-tangga https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-bahas-lanjutan-belajar-menikah-dari-sejarah-terbaik-peserta-antusias-berdiskusi-seputar-kehidupan-rumah-tangga#respond Tue, 02 Jun 2026 14:43:30 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-bahas-lanjutan-belajar-menikah-dari-sejarah-terbaik-peserta-antusias-berdiskusi-seputar-kehidupan-rumah-tangga Jakarta, 31 Mei 2026 – Sakinah Family Center Universitas Darunnajah kembali menyelenggarakan program Sakinah Talks yang dilaksanakan pada Ahad, 31 Mei 2026, pukul 05.30–06.30 WIB melalui Google Meet. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Saifullah Kamalie, Ph.D, penulis buku Baiti Jannati sekaligus dosen Universitas Darunnajah, dengan tema “Lanjutan Belajar Menikah dari Sejarah Terbaik.”

Kajian yang dimoderatori oleh Mega Muhardi mahasiswa Universitas Darunnajah ini merupakan lanjutan dari pembahasan buku Baiti Jannati, sebuah buku yang mengupas berbagai pelajaran berharga tentang kehidupan rumah tangga berdasarkan teladan terbaik dalam sejarah Islam. Pada kesempatan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa membangun keluarga yang sakinah merupakan proses panjang yang membutuhkan ilmu, kesabaran, dan komitmen dari setiap anggota keluarga.

Berbeda dari kajian pada umumnya, sesi ini menghadirkan metode yang menarik dan inovatif. Materi disampaikan dengan cara membaca isi buku Baiti Jannati yang telah disiapkan oleh narasumber. Pembacaan dilakukan menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI), sementara lembaran-lembaran buku ditampilkan langsung di layar sehingga peserta dapat mengikuti isi pembahasan dengan lebih mudah dan interaktif.

Alhamdulillah, para peserta menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta dalam mengikuti materi hingga sesi diskusi dan tanya jawab di penghujung acara.

Beragam pertanyaan menarik disampaikan oleh peserta, di antaranya mengenai relevansi perjodohan di era modern, bagaimana menghadapi rasa bosan setelah menjalani pernikahan selama puluhan tahun, serta cara menjaga dan menumbuhkan cinta kepada pasangan agar tetap hangat sepanjang perjalanan rumah tangga.

Melalui diskusi yang hangat dan penuh hikmah, Ustadz Saifullah Kamalie, Ph.D memberikan berbagai pandangan dan solusi yang berlandaskan nilai-nilai Islam, pengalaman kehidupan keluarga Rasulullah ﷺ, serta prinsip-prinsip membangun rumah tangga yang sehat dan harmonis.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kebutuhan akan ilmu keluarga dan pernikahan semakin besar di tengah tantangan kehidupan modern. Sakinah Family Center berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang belajar dan diskusi yang bermanfaat bagi masyarakat dalam mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

 

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-bahas-lanjutan-belajar-menikah-dari-sejarah-terbaik-peserta-antusias-berdiskusi-seputar-kehidupan-rumah-tangga/feed 0
Sakinah Talks Perdana Berlangsung Hangat dan Inspiratif https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-perdana-berlangsung-hangat-dan-inspiratif https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-perdana-berlangsung-hangat-dan-inspiratif#respond Mon, 25 May 2026 09:32:05 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-perdana-berlangsung-hangat-dan-inspiratif Sakinah Family Center Universitas Darunnajah menghadirkan program kajian keluarga melalui kegiatan Sakinah Talks yang telah terlaksana pada hari Ahad, 24 Mei 2026 pukul 05.30–06.30 WIB secara daring melalui Google Meet. Kajian perdana ini menghadirkan narasumber Ustadz Saifullah Kamalie, Ph. D yang membahas buku karya beliau berjudul Baiti Jannati.

Pada pertemuan pertama ini, tema yang diangkat adalah “Belajar Menikah dari Sejarah Terbaik”, yang merupakan pembahasan dari bab pertama buku Baiti Jannati. Dalam penyampaiannya, Ustadz Saifullah Kamalie menjelaskan pentingnya mempelajari sejarah rumah tangga terbaik sebagai bekal dalam membangun keluarga yang sakinah, penuh cinta, dan keberkahan.

Kajian berlangsung dengan suasana hangat dan penuh antusiasme. Para peserta tampak aktif menyimak materi yang disampaikan serta mengikuti jalannya diskusi dengan penuh perhatian. Tidak hanya sesi penyampaian materi, kegiatan ini juga diisi dengan sesi membaca buku oleh peserta yang menambah semangat literasi dan kedekatan peserta dengan isi buku Baiti Jannati.

Melalui program Sakinah Talks, Sakinah Family Center Universitas Darunnajah berharap dapat menghadirkan ruang belajar yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam mempersiapkan dan membangun keluarga Islami di tengah tantangan zaman saat ini.

Semoga kajian ini menjadi wasilah kebaikan dan menghadirkan kebermanfaatan bagi seluruh peserta. Sampai bertemu pada kajian Sakinah Talks berikutnya.

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-talks-perdana-berlangsung-hangat-dan-inspiratif/feed 0
Sakinah Family Center Gelar Webinar dan Bedah Buku “Pernikahan di Era Digital: Menjaga Harmoni di Tengah Banjir Informasi” https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-family-center-gelar-webinar-dan-bedah-buku-pernikahan-di-era-digital-menjaga-harmoni-di-tengah-banjir-informasi https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-family-center-gelar-webinar-dan-bedah-buku-pernikahan-di-era-digital-menjaga-harmoni-di-tengah-banjir-informasi#respond Fri, 15 May 2026 10:12:36 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-family-center-gelar-webinar-dan-bedah-buku-pernikahan-di-era-digital-menjaga-harmoni-di-tengah-banjir-informasi Dalam upaya memberikan edukasi dan solusi bagi keluarga muslim di era modern, Sakinah Family Center Universitas Darunnajah akan menggelar webinar dan bedah buku bertajuk “Pernikahan di Era Digital: Menjaga Harmoni di Tengah Banjir Informasi” pada Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 13.30–15.00 WIB secara daring melalui Zoom.

Kegiatan ini hadir sebagai ruang diskusi dan refleksi mengenai tantangan rumah tangga di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital. Saat ini keluarga hidup di dua dunia sekaligus, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Media sosial, distraksi digital, trust issue, komunikasi yang semakin renggang, hingga anak-anak yang tumbuh bersama algoritma dan gadget menjadi persoalan yang nyata dalam kehidupan keluarga modern.

Melalui webinar ini, peserta akan diajak memahami bagaimana membangun keluarga yang harmonis, sakinah, dan tetap kokoh di tengah tantangan era digital. Acara ini juga akan dikemas dengan sesi bedah buku yang inspiratif dan aplikatif.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Ust. Saifullah Kamalie, Ph. D yang dikenal sebagai penulis buku Pernikahan dalam Islam dan Baiti Jannati. Selain itu, webinar juga menghadirkan Usth. Dr. Maya Yunus, M. Ag sebagai pembicara yang akan memberikan perspektif pendidikan dan pembinaan keluarga di era digital.

Acara akan dipandu oleh moderator Usth. Husnul Hotimah, M. H Dosen Universitas Darunnajah yang akan memfasilitasi jalannya diskusi agar lebih interaktif dan menarik.

Peserta webinar akan mendapatkan berbagai manfaat, di antaranya e-book eksklusif secara gratis, insight dan solusi realistis mengenai kehidupan pernikahan, bekal membangun keluarga harmonis di era digital, serta e-sertifikat sebagai bentuk apresiasi keikutsertaan.

Panitia juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum, mahasiswa, guru, maupun pasangan muda untuk mengikuti kegiatan ini dengan infaq sebesar Rp10.000 melalui rekening BSI 8282229994 atas nama Darunnajah.

Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan berikut:

https://forms.gle/QsCVrpHWZFSZHWxq5

Melalui kegiatan ini, Sakinah Family Center berharap dapat menjadi wadah edukasi keluarga yang mampu menghadirkan solusi, penguatan nilai-nilai Islam, serta inspirasi dalam membangun rumah tangga yang harmonis di tengah perkembangan zaman.

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/sakinah-family-center-gelar-webinar-dan-bedah-buku-pernikahan-di-era-digital-menjaga-harmoni-di-tengah-banjir-informasi/feed 0