Fakultas Agama Islam – Fakultas Agama Islam https://fai.darunnajah.ac.id Wed, 09 Sep 2026 02:04:44 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.1 Delegasi FAI UDN Hadiri GIHES 2026, Forum Perdana 100 Tahun Gontor yang Membedah Pendidikan Holistik https://fai.darunnajah.ac.id/delegasi-fai-udn-hadiri-gihes-2026-forum-perdana-100-tahun-gontor-yang-membedah-pendidikan-holistik https://fai.darunnajah.ac.id/delegasi-fai-udn-hadiri-gihes-2026-forum-perdana-100-tahun-gontor-yang-membedah-pendidikan-holistik#respond Wed, 09 Sep 2026 02:04:44 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/?p=1164 JAKARTA — Universitas Darunnajah berpartisipasi aktif dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, 5–6 September 2026. Delegasi dipimpin langsung Rektor, Dr. Much Hasan Darojat, bersama Dekan Fakultas Agama Islam, Duna Izfanna, M.Ed., Ph.D., Anas Fauzi, M.Pd., dan Bayu Arief Mahendra, S.H., M.A.

GIHES 2026 adalah forum internasional yang untuk pertama kalinya digelar, sebagai bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dengan tema Exploring and Revealing the Islamic Holistic Education System. lebih dari 209 peserta perwakilan dari lembaga hadir, sebagian datang dari Malaysia, Turki, India, Jepang, Nigeria, Mesir, dan Amerika Serikat.

Forum dibuka secara resmi oleh Ketua MPR RI, H. Ahmad Muzani, setelah refleksi pembuka dari Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Drs. K.H. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. Muzani mengajak hadirin melihat pendidikan sebagai penanaman modal jangka panjang, “Pendidikan adalah investasi peradaban”.

Pemapar kunci pertama, Rektor UNIDA Gontor sekaligus Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil., mengurai tiga persoalan pendidikan modern. Ilmu pengetahuan dipisahkan dari agama sehingga siswa tumbuh dengan ruang batin yang kosong. Sekolah terlalu memuja kemampuan berpikir dan mengabaikan sisanya. Akibatnya lulusan pandai secara akademik tetapi lemah dalam bekerja sama, memimpin, dan bertahan menghadapi tekanan.

Menurut Prof. Hamid, kegelisahan serupa sudah lama disuarakan pemikir Barat seperti Pestalozzi, Fröbel, Steiner, dan Montessori. Bedanya, gagasan mereka sebagian besar berhenti sebagai teori atau berjalan sepotong-sepotong, sementara pesantren menjalankannya sekaligus sebagai satu cara hidup. Santri tinggal di asrama, belajar agama dan ilmu umum dalam satu atap, dan dibina intelektual, moral, sekaligus spiritualnya selama 24 jam. Ia menutup dengan definisi al-Raghib al-Isfahani (w. 502 H/1108 M), bahwa at-tarbiyah adalah menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap sampai mencapai kesempurnaan.

Dua sidang pleno berikutnya menghadirkan Prof. Dr. Amin Abdullah, Prof. Asep Saepudin Jahar, Ph.D., Prof. Dr. Nuri Tinaz dari Turki, Prof. Dr. Ryoko Tsuneyoshi dari Jepang, Dr. Mahamood Shihab K.M. dari India, dan Prof. Dato’ Ts. Dr. Norazah Mohd Nordin dari Malaysia. Hari pertama ditutup dengan special address Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 H.E. Dr. (H.C.) H. Muhammad Jusuf Kalla dan Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily.

Bagi FAI UDN, materi forum bersinggungan langsung dengan Program Studi, terutama sejak Program Studi Manajemen Pendidikan Islam membuka konsentrasi Manajemen Pesantren pada tahun akademik 2025/2026. Ada dua tugas utama: Pertama, menerjemahkan praktik pesantren ke dalam bahasa akademik yang bisa dikenal dunia luar. Kedua, menyediakan data, keunggulan pesantren dalam membentuk karakter tidak akan bertahan lama tanpa penelitian dan publikasi yang memadai. (D)

Delegasi UDN mengikuti seluruh rangkaian hari pertama hingga hari kedua, Ahad (6/9/2026), yang diisi sesi Leaders Talk, sidang kelompok kerja, dan penutupan. Panitia menyatakan GIHES akan diselenggarakan kembali sebagai agenda tahunan.

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/delegasi-fai-udn-hadiri-gihes-2026-forum-perdana-100-tahun-gontor-yang-membedah-pendidikan-holistik/feed 0
FAI Universitas Darunnajah Sambut Mahasiswa Baru melalui PPKMB 2026/2027 https://fai.darunnajah.ac.id/fai-universitas-darunnajah-sambut-mahasiswa-baru-melalui-ppkmb-2026-2027 https://fai.darunnajah.ac.id/fai-universitas-darunnajah-sambut-mahasiswa-baru-melalui-ppkmb-2026-2027#respond Fri, 04 Sep 2026 11:35:16 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/?p=1154 Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Darunnajah menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PPKMB) Tahun Akademik 2026/2027 pada Jumat, 3 September 2026, bertempat di Aula Al-Ghazali. Kegiatan ini menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik, budaya kampus, serta arah pengembangan pendidikan di FAI.

Kegiatan PPKMB dibuka secara langsung oleh Dekan Fakultas Agama Islam, Assoc. Prof. Duna Izfanna, M.Ed., Ph.D., yang menyambut kehadiran mahasiswa baru dengan penuh antusiasme. Pembukaan tersebut sekaligus menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk memahami peran dan kontribusi FAI dalam membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, serta mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa baru diperkenalkan dengan visi FAI, yaitu menjadi fakultas yang unggul di tingkat nasional dalam pengembangan keilmuan, pendidikan, dan teknologi berbasis pesantren wakaf pada tahun 2027. Pengenalan visi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai arah akademik dan nilai-nilai yang akan menjadi landasan selama menempuh pendidikan di FAI.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi sosialisasi program studi yang disampaikan oleh masing-masing ketua program studi. Idham, M.Pd. memperkenalkan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), H. Habib Al Rahman, Lc., MA. menyampaikan Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), sedangkan Pipit Nuri Mulyanitingtias, M.Psi. memperkenalkan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).

Pada sesi pengenalan MPI, mahasiswa mendapatkan gambaran mengenai kompetensi dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara profesional, perencanaan dan evaluasi program, serta kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya manusia. Program Studi HKI memperkenalkan kompetensi di bidang hukum pernikahan, perceraian, kewarisan, fikih, serta penyelesaian sengketa keluarga berdasarkan perspektif hukum Islam dan hukum positif Indonesia.

Sementara itu, Program Studi PIAUD memperkenalkan kompetensi yang berkaitan dengan perkembangan anak usia dini melalui pendekatan Islam berbasis Al-Qur’an dan Hadis. Mahasiswa juga diperkenalkan pada kemampuan pengembangan kepribadian dan kognitif anak, serta asesmen dan stimulasi perkembangan secara holistik.

Sosialisasi program studi berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif, dengan mahasiswa baru menunjukkan perhatian serta antusiasme selama kegiatan berlangsung. Semangat tersebut mencerminkan kesiapan mahasiswa untuk memulai perjalanan akademik sekaligus menjadi bagian dari keluarga besar Fakultas Agama Islam Universitas Darunnajah.

Melalui PPKMB Tahun Akademik 2026/2027, FAI Universitas Darunnajah tidak hanya memperkenalkan kehidupan kampus dan program studi, tetapi juga menanamkan pemahaman mengenai arah pendidikan yang akan ditempuh mahasiswa. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang positif dalam membangun mahasiswa yang unggul, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui ilmu serta nilai-nilai Islam.

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/fai-universitas-darunnajah-sambut-mahasiswa-baru-melalui-ppkmb-2026-2027/feed 0
International Guest Lecture Bahas Etika Islam, Sains, dan Kepemimpinan untuk Masa Depan Berkelanjutan https://fai.darunnajah.ac.id/international-guest-lecture-bahas-etika-islam-sains-dan-kepemimpinan-untuk-masa-depan-berkelanjutan https://fai.darunnajah.ac.id/international-guest-lecture-bahas-etika-islam-sains-dan-kepemimpinan-untuk-masa-depan-berkelanjutan#respond Tue, 01 Sep 2026 04:34:15 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/?p=1076 Universitas Darunnajah bersama Universiti Malaya menyelenggarakan International Guest Lecture bertajuk “Islam, Science & Ethics: Navigating Contemporary Challenges for a Sustainable Future” pada 1 September 2026 secara daring melalui Google Meet. Kegiatan pukul 10.00–12.00 waktu Malaysia itu diikuti lebih dari 100 peserta dari Indonesia dan Malaysia yang terdiri atas mahasiswa dan dosen.

Kegiatan menghadirkan Dr. Asmawati Muhammad sebagai moderator, Emeritus Prof. Datuk Dr. Azizan Baharuddin sebagai Speaker 1, serta Dr. Much Hasan Darojat sebagai Speaker 2. Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi akademik untuk membahas etika sains, teknologi, kepemimpinan, dan keberlanjutan lingkungan melalui perspektif Islam.

Prof. Azizan Baharuddin menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan praktik STEM harus diarahkan pada kemaslahatan bersama, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan kesejahteraan manusia. Perkembangan kecerdasan buatan, bioteknologi, genetika, dan teknologi lainnya, menurutnya, menghadirkan dilema moral yang membutuhkan keseimbangan antara inovasi dan tanggung jawab.

Perubahan iklim, ketergantungan bahan bakar fosil, sampah makanan, kepunahan keanekaragaman hayati, polusi plastik, deforestasi, dan degradasi lahan disebut sebagai persoalan yang mengancam kehidupan. Karena itu, ilmu pengetahuan perlu ditempatkan sebagai bagian dari solusi melalui landasan etika yang kuat, bukan sekadar mengejar kemajuan teknologi.

Materi juga menyoroti perlunya pengembangan STEM menuju STEAM atau STREAM dengan memasukkan seni, agama, dan metafisika dalam pembentukan cara pandang terhadap ilmu. Pendekatan ini mendorong agar pengembangan teknologi mempertimbangkan aspek fisik, sosial, budaya, nilai moral, serta tujuan kehidupan.

Dr. Much Hasan Darojat membahas “The Ethical Leadership in Islam: From Worldview to Accountability” dengan menempatkan kepemimpinan sebagai amanah. Empat fondasinya meliputi tawhid sebagai sumber otoritas, khilafah sebagai tanggung jawab menjaga bumi, amanah sebagai tanggung jawab yang dipercayakan, dan akhirat sebagai orientasi pertanggungjawaban.

Kepemimpinan profetik dijelaskan melalui sidq, amanah, tabligh, dan fatanah sebagai dasar integritas, tanggung jawab, komunikasi, dan kecakapan mengambil keputusan. Dalam lembaga pendidikan, prinsip ‘adl, ihsan, amanah, shura, dan rahmah diperkuat melalui tabayyun, musyawarah, keteguhan keputusan, tawakkul, serta muhasabah.

Kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi Indonesia–Malaysia dalam membangun ilmu dan kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan serta keberlanjutan. Peserta diharapkan menerapkan amanah, keadilan, integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap alam dalam kehidupan akademik maupun kepemimpinan bersama.

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/international-guest-lecture-bahas-etika-islam-sains-dan-kepemimpinan-untuk-masa-depan-berkelanjutan/feed 0
Rumah yang Dirindukan: Sepuluh Nasihat Penutup menuju Baiti Jannati https://fai.darunnajah.ac.id/rumah-yang-dirindukan-sepuluh-nasihat-penutup-menuju-baiti-jannati https://fai.darunnajah.ac.id/rumah-yang-dirindukan-sepuluh-nasihat-penutup-menuju-baiti-jannati#respond Mon, 24 Aug 2026 03:51:44 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/?p=804 Rumah yang dirindukan bukanlah rumah yang selalu dipenuhi kemewahan, bebas dari persoalan, atau memiliki segala sesuatu yang diinginkan. Rumah yang dirindukan adalah tempat seseorang menemukan ketenangan setelah lelah menghadapi dunia; tempat suami, istri, dan anak-anak bertumbuh dalam cinta, saling memahami, dan bersama-sama mendekat kepada Allah Swt.

Pembahasan ini menjadi penutup dari rangkaian dua puluh nasihat membangun rumah tangga, yang terinspirasi dari nilai-nilai yang disampaikan dalam buku Baiti Jannati karya Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D. Sepuluh nasihat terakhir mengajak setiap keluarga untuk kembali melihat fondasi kebahagiaan: bagaimana memaknai harta, mengelola waktu dan hobi, mendidik anak tentang uang, menyelesaikan konflik, memperlakukan pasangan dengan kelembutan, hingga menyerahkan hasil akhir kehidupan kepada Allah melalui tawakal.

Allah Swt. berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini mengingatkan bahwa orientasi utama pernikahan bukan sekadar memiliki, tetapi menemukan ketenteraman. Bukan hanya tentang bertambahnya fasilitas, tetapi bertambahnya mawaddah dan rahmah.

Berikut sepuluh nasihat penutup menuju rumah yang, insya Allah, dapat menjadi Baiti Jannati—rumahku surgaku.

  1. Jangan Mengukur Kebahagiaan dengan Standar Material

Salah satu jebakan terbesar keluarga modern adalah menjadikan kebahagiaan identik dengan materi. Rumah yang besar, kendaraan yang bagus, penghasilan tinggi, atau kehidupan yang tampak sempurna di media sosial sering kali dijadikan ukuran keberhasilan sebuah keluarga.

Padahal, banyak keluarga memiliki kelimpahan harta tetapi miskin percakapan. Ada rumah yang indah secara fisik, tetapi penghuninya saling berjauhan secara emosional.

Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan fondasi penting bagi keluarga: kaya tidak selalu berarti memiliki banyak, tetapi mampu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki.

Para ulama menjelaskan bahwa kekayaan hati tampak dalam sikap qana’ah, yaitu menerima rezeki Allah dengan lapang dada tanpa berhenti berikhtiar. Qana’ah bukan berarti malas memperbaiki keadaan ekonomi, melainkan tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan dan harga diri.

Dalam perspektif psikologi keluarga, tekanan ekonomi memang dapat memengaruhi kepuasan pernikahan. Penelitian terhadap 751 pasangan orang tua di Jawa Barat menemukan bahwa tekanan finansial berkaitan negatif dengan kepuasan pernikahan dan kualitas hidup. Namun, kemampuan pasangan menghadapi tekanan secara bersama-sama (dyadic coping) dapat memperlemah dampak negatif tekanan finansial terhadap kepuasan pernikahan. Artinya, persoalan ekonomi tidak harus dihadapi dengan saling menyalahkan, melainkan sebagai persoalan yang dihadapi oleh “kita”.

Karena itu, kebahagiaan keluarga tidak semata-mata bergantung pada berapa banyak yang dimiliki, tetapi juga bagaimana keluarga memaknai apa yang dimiliki.

  1. Ubah Hobi Menjadi Jalan Bertumbuh dan Sumber Berkah

Setiap orang membutuhkan ruang untuk beristirahat dan menikmati kehidupan. Hobi dapat menjadi sarana menjaga kesehatan psikologis, mengembangkan potensi, bahkan mempererat hubungan keluarga.

Namun, hobi perlu dikelola agar tidak berubah menjadi sumber konflik.

Seorang suami yang terlalu tenggelam dalam hobinya hingga mengabaikan istri dan anak, atau seorang istri yang menghabiskan waktu dan sumber daya keluarga tanpa mempertimbangkan kebutuhan bersama, perlu melakukan evaluasi. Hobi yang sehat bukan hobi yang menjauhkan seseorang dari keluarga, tetapi yang membantu seseorang kembali kepada keluarganya dengan energi dan kebahagiaan yang lebih baik.

Penelitian mengenai keseimbangan peran dalam keluarga menunjukkan bahwa waktu luang yang dinikmati bersama pasangan dan keluarga berkaitan dengan keseimbangan kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, pola waktu luang yang terlalu individual dapat menciptakan ketidakseimbangan dalam kehidupan keluarga.

Karena itu, hobi dapat diubah menjadi berkah dengan beberapa cara:

  1. Melibatkan pasangan dan anak dalam aktivitas tertentu.
  2. Menjadikan hobi sebagai sarana mempererat komunikasi.
  3. Menetapkan batas waktu dan anggaran yang disepakati.
  4. Mengembangkan hobi menjadi keterampilan yang produktif.
  5. Tidak membiarkan hobi mengalahkan tanggung jawab utama.

Bisa jadi kegemaran memasak melahirkan usaha keluarga. Kegemaran membaca melahirkan budaya literasi di rumah. Kegemaran berkebun mengajarkan anak tentang kesabaran. Kegemaran olahraga menjadi waktu berkualitas antara orang tua dan anak.

Dengan demikian, hobi bukan sekadar “kesenangan pribadi”, tetapi dapat menjadi energi positif yang menghidupkan keluarga.

  1. Ajarkan Anak Menabung Sejak Dini

Pendidikan keuangan bukanlah sesuatu yang harus menunggu anak dewasa. Karakter menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, menunda kepuasan, serta bertanggung jawab terhadap uang dapat mulai dikenalkan secara bertahap sejak usia dini.

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا

“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya, karena itu engkau menjadi tercela dan menyesal.”
(QS. Al-Isra’: 29)

Ayat ini mengajarkan prinsip keseimbangan: tidak kikir dan tidak pula berlebihan.

Orang tua dapat memulai pendidikan finansial melalui hal-hal sederhana, seperti memberikan tempat menabung, mengajarkan anak menyisihkan uang, membedakan antara “ingin” dan “butuh”, serta melibatkan anak dalam percakapan sederhana mengenai perencanaan keuangan keluarga sesuai dengan tingkat usianya.

Penelitian psikologi tentang sosialisasi keuangan menunjukkan bahwa pendidikan keuangan yang diterima seseorang dari orang tuanya pada masa kanak-kanak dan remaja berkaitan dengan hasil yang lebih baik ketika memasuki masa dewasa, termasuk kepuasan hidup dan kondisi psikologis.

Bahkan, penelitian lain menunjukkan bahwa cara orang tua menyelesaikan konflik keuangan dapat menjadi bagian dari proses pendidikan finansial anak. Anak tidak hanya belajar dari nasihat tentang uang, tetapi juga dari apa yang mereka lihat: apakah orang tuanya berdiskusi, bernegosiasi, saling menghormati, atau justru bertengkar dan saling menyalahkan.

Maka, pelajaran keuangan terbaik bukan hanya:

“Nak, rajinlah menabung.”

Tetapi juga keteladanan:

“Nak, lihatlah bagaimana Ayah dan Ibu berusaha menggunakan rezeki Allah dengan bijak.”

  1. Kelola Keuangan Bersama, Jangan Menjadikannya Rahasia dan Senjata

Keuangan merupakan salah satu persoalan yang sering memicu ketegangan dalam rumah tangga. Namun, masalahnya tidak selalu semata-mata pada jumlah uang. Sering kali persoalan yang lebih mendalam adalah cara pasangan berkomunikasi tentang uang.

Penelitian mengenai konflik finansial dan kepuasan pernikahan menemukan bahwa komunikasi yang konstruktif dalam menghadapi masalah keuangan berkaitan dengan kepuasan komunikasi finansial dan kepuasan pernikahan yang lebih baik. Sebaliknya, pola komunikasi yang destruktif, saling menuntut lalu menghindar, atau terus-menerus menghindari pembicaraan tentang uang berkaitan dengan ketidakharmonisan dan kepuasan pernikahan yang lebih rendah.

Karena itu, keluarga perlu memiliki ruang musyawarah keuangan. Tidak harus berupa rapat yang formal, tetapi ada waktu untuk berbicara tentang:

  • pendapatan dan prioritas kebutuhan;
  • kebutuhan rutin keluarga;
  • tabungan dan dana darurat;
  • utang atau kewajiban yang harus diselesaikan;
  • pendidikan anak;
  • rencana masa depan.

Allah Swt. memuji orang-orang yang menjalankan urusan mereka dengan musyawarah:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

“Sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura: 38)

Prinsip musyawarah sangat relevan dalam keluarga. Suami dan istri tidak perlu selalu memiliki pendapat yang sama, tetapi keduanya harus merasa didengar, dihargai, dan dilibatkan.

Masalah keuangan hendaknya tidak dijadikan senjata untuk merendahkan pasangan. Kalimat seperti, “Karena uangku lebih banyak, kamu tidak berhak bicara,” hanya akan merusak rasa kemitraan dalam keluarga.

  1. Hadapi Konflik sebagai Masalah Bersama, Bukan Pertarungan Suami Melawan Istri

Konflik dalam rumah tangga adalah bagian dari kehidupan manusia. Dua orang dengan latar belakang keluarga, kebiasaan, karakter, dan cara berpikir yang berbeda tentu berpotensi mengalami perbedaan.

Yang menentukan kualitas pernikahan bukanlah apakah pasangan pernah berkonflik, melainkan bagaimana mereka menghadapi konflik tersebut.

Penelitian psikologi keluarga menunjukkan bahwa interaksi dan komunikasi suami-istri memiliki hubungan penting dengan kehidupan pernikahan. Kurangnya interaksi dan komunikasi dalam berbagai aspek kehidupan keluarga dapat mendorong konflik dan ketidakharmonisan.

Ketika konflik muncul, ubahlah cara pandang:

Bukan aku versus kamu.
Tetapi kita bersama-sama menghadapi masalah.

Hindari memperbesar konflik dengan membuka kesalahan lama, mempermalukan pasangan, menggunakan kata-kata kasar, atau melibatkan anak sebagai alat untuk memenangkan pertengkaran.

Allah Swt. berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 83)

Jika kepada manusia secara umum kita diperintahkan berkata baik, maka kepada pasangan—orang yang hidup paling dekat dengan kita—tentu tuntutan menjaga lisan menjadi semakin penting.

Dalam menghadapi konflik, terkadang pasangan tidak membutuhkan kemenangan. Mereka membutuhkan pemahaman.

  1. Kelembutan adalah Kekuatan, Bukan Kelemahan

Dalam sebagian budaya, seseorang dianggap kuat apabila keras, tegas, dan selalu mampu mendominasi. Padahal, dalam pendidikan Rasulullah saw., kelembutan justru merupakan salah satu bentuk kekuatan akhlak.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.”
(HR. Muslim)

Kelembutan tidak berarti membiarkan kesalahan. Kelembutan adalah kemampuan menyampaikan kebenaran tanpa harus menghancurkan perasaan.

Para ulama menjelaskan bahwa rifq merupakan akhlak yang sangat dianjurkan dalam interaksi. Bahkan nasihat, koreksi, dan pendidikan akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan cara yang bijaksana.

Dalam keluarga, kelembutan dapat hadir dalam bentuk sederhana:

  • mendengarkan pasangan sampai selesai;
  • tidak langsung bereaksi ketika emosi;
  • memilih kata yang baik;
  • memegang tangan pasangan ketika sedang gelisah;
  • meminta maaf tanpa menunggu keadaan semakin buruk.

Kadang-kadang rumah tangga tidak membutuhkan kalimat yang panjang. Ia hanya membutuhkan satu sikap lembut yang mengatakan:

“Aku tahu kamu sedang lelah. Mari kita hadapi ini bersama.”

  1. Jadikan Ketenangan sebagai Budaya Rumah

Rumah seharusnya menjadi tempat pemulihan, bukan sumber ketakutan.

Setiap anggota keluarga tentu ingin pulang ke rumah yang membuatnya merasa aman secara emosional. Anak tidak takut melakukan kesalahan karena akan dibimbing. Istri tidak takut menyampaikan pendapat. Suami tidak takut menceritakan kesulitannya.

Ketenangan tidak berarti rumah tidak pernah gaduh. Anak-anak tentu dapat bermain dan tertawa. Perbedaan pendapat juga tetap mungkin terjadi. Namun, budaya rumah harus dibangun di atas rasa aman, bukan intimidasi.

Allah Swt. berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan pergaulilah mereka dengan cara yang patut.”
(QS. An-Nisa’: 19)

Para mufasir menjelaskan prinsip mu’asyarah bil ma’ruf sebagai kehidupan bersama yang dibangun dengan perlakuan baik, penghormatan, dan kepantasan.

Rumah yang tenang dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil: mengucapkan salam ketika pulang, menanyakan kabar, makan bersama ketika memungkinkan, mengurangi penggunaan gawai saat berbicara, dan menyediakan waktu untuk mendengar cerita anggota keluarga.

Ketenteraman rumah bukan hadir dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari kebiasaan baik yang dilakukan secara berulang.

  1. Jangan Remehkan Senyum: Ia Bisa Menjadi Sedekah

Ada keluarga yang tidak kekurangan kebutuhan, tetapi kekurangan ekspresi kasih sayang. Semua orang sibuk, semua orang bekerja, semua orang memiliki tanggung jawab—tetapi hampir tidak ada yang tersenyum kepada anggota keluarganya sendiri.

Padahal Rasulullah saw. bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.”
(HR. Tirmidzi)

Jika senyum kepada saudara merupakan sedekah, maka senyum kepada pasangan dan anak-anak tentu dapat menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berharga.

Senyum bukan solusi untuk seluruh masalah. Orang yang sedang menghadapi persoalan berat tetap membutuhkan penyelesaian nyata. Namun, senyum dapat menjadi bahasa emosional yang menyampaikan penerimaan dan kehangatan.

Jangan sampai kita ramah kepada semua orang di luar rumah, tetapi membawa wajah paling tegang kepada orang-orang yang paling dekat dengan kita.

Berikan senyum kepada pasangan. Sambut anak-anak dengan wajah yang menyenangkan. Jadikan rumah tempat di mana setiap orang merasa:

“Kehadiranku di sini diterima.”

  1. Berusahalah Sepenuh Hati, Lalu Belajarlah Bertawakal

Tidak semua rencana keluarga akan berjalan sesuai harapan. Ada usaha yang belum berhasil. Ada anak yang membutuhkan perhatian lebih. Ada kebutuhan yang meningkat ketika penghasilan tidak bertambah. Ada masalah yang penyelesaiannya membutuhkan waktu.

Di sinilah tawakal menjadi kekuatan spiritual keluarga.

Allah Swt. berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.”
(QS. At-Talaq: 3)

Tawakal bukan berarti berhenti merencanakan. Bukan pula menyerahkan semua persoalan tanpa ikhtiar.

Ulama seperti Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal berkaitan dengan bersandarnya hati kepada Allah, sementara manusia tetap menjalankan sebab dan ikhtiar yang dibenarkan. Demikian pula Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa tawakal tidak bertentangan dengan usaha; mengambil sebab merupakan bagian dari ketaatan, sedangkan ketergantungan hati tetap hanya kepada Allah.

Karena itu, keluarga yang bertawakal tetap bekerja, menyusun anggaran, mendidik anak, menyelesaikan konflik, mencari pertolongan ketika diperlukan, dan memperbaiki kesalahan.

Namun setelah seluruh ikhtiar dilakukan, keluarga tersebut menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah.

Tawakal mengajarkan kita untuk berkata:

“Kami akan melakukan yang terbaik, tetapi kami tidak akan membiarkan kecemasan menghancurkan iman kami.”

  1. Jangan Berhenti Berdoa agar Rumah Menjadi Jalan Menuju Surga

Nasihat terakhir sekaligus menjadi puncak dari seluruh perjalanan membangun rumah tangga: jangan hanya meminta rumah yang nyaman di dunia, tetapi mintalah keluarga yang menjadi jalan menuju keselamatan di akhirat.

Allah Swt. mengajarkan doa:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)

Inilah doa tentang keluarga yang sangat indah. Bukan hanya meminta pasangan dan anak, tetapi meminta agar mereka menjadi qurrata a’yun, penyejuk mata dan hati.

Rumah yang dirindukan bukan rumah yang penghuninya sempurna. Tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang sempurna, dan tidak ada orang tua yang sempurna.

Namun, rumah yang baik adalah rumah yang penghuninya mau terus belajar.

Belajar meminta maaf.
Belajar memaafkan.
Belajar mengelola uang.
Belajar mengendalikan emosi.
Belajar berbicara dengan lembut.
Belajar tersenyum.
Belajar bersyukur.
Belajar bekerja keras.
Dan belajar menyerahkan hasil kepada Allah.

Penutup: Dari Rumah Biasa Menuju Baiti Jannati

Dua puluh nasihat dalam rangkaian kajian ini pada akhirnya membawa kita kepada satu kesadaran: Baiti Jannati tidak dibangun dalam satu hari.

Ia dibangun dari kata-kata yang dijaga. Dari uang yang dikelola dengan amanah. Dari hobi yang tidak melupakan keluarga. Dari anak-anak yang dididik dengan teladan. Dari konflik yang diselesaikan tanpa saling merendahkan. Dari kelembutan yang dipilih ketika kemarahan sebenarnya lebih mudah dilakukan.

Ia juga dibangun dari senyum, pelukan, doa, dan tawakal.

Kebahagiaan sejati tidak selalu berarti memiliki kehidupan tanpa masalah. Kebahagiaan adalah ketika di tengah masalah, keluarga masih memiliki alasan untuk saling menggenggam dan berkata:

“Kita mungkin belum memiliki semuanya, tetapi selama kita masih bersama dalam kebaikan dan dekat kepada Allah, insya Allah kita sedang berjalan menuju rumah yang dirindukan.”

Semoga Allah menjadikan rumah-rumah kita sebagai tempat tumbuhnya iman, cinta, ketenangan, ilmu, dan keberkahan. Semoga suami dan istri menjadi penyejuk satu sama lain. Semoga anak-anak menjadi generasi yang saleh dan salehah. Dan semoga rumah yang kita bangun di dunia menjadi jalan menuju pertemuan kembali dalam surga-Nya.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا تَمْلَؤُهَا الْمَوَدَّةُ وَالرَّحْمَةُ وَالطَّاعَةُ لَكَ

Ya Allah, perbaikilah pasangan dan keturunan kami, dan jadikanlah rumah-rumah kami rumah yang dipenuhi kasih sayang, rahmat, dan ketaatan kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Oleh: Delpa Firdaus, S. Sy., M. H

Referensi

  1. Al-Qur’an al-Karim.
  2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
  3. Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.
  4. Al-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan al-Tirmidzi.
  5. Saifullah Kamalie, Ph.D. Baiti Jannati.
  6. Novianti, L. E. L., Purba, F. D., Karremans, J. C., & Agustiani, H. “Financial Strain among West-Javanese Parents: Its Association with Marital Satisfaction and Quality of Life, and the Role of Dyadic Coping.” Frontiers in Psychology, 2024. Penelitian ini secara khusus mengkaji 751 pasangan orang tua di Jawa Barat.
  7. Shebib, S., & Cupach, W. “Financial Conflict Messages and Marital Satisfaction: The Mediating Role of Financial Communication Satisfaction.” Psychology, 2018.
  8. LeBaron-Black, A. B. dkk. “Finances and Fate: Parent Financial Socialization, Locus of Control, and Mental Health in Emerging Adulthood.” 2022.
  9. Penelitian tentang konflik finansial orang tua, sosialisasi keuangan, dan kesejahteraan anak dewasa, Journal of Family and Economic Issues, 2024.
  10. Wulansari, D., & Krisnatuti, D. “Marital Interaction and Marital Role on Marital Satisfaction of Dual Earner Family with School Age Children.” Journal of Child, Family, and Consumer Studies.

 

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/rumah-yang-dirindukan-sepuluh-nasihat-penutup-menuju-baiti-jannati/feed 0
Mahasiswa FAI Universitas Darunnajah Tampil di Next Gen Leaders Regional Jawa-Bali, Asah Kepemimpinan dan Perluas Jejaring Nasional https://fai.darunnajah.ac.id/mahasiswa-fai-universitas-darunnajah-tampil-di-next-gen-leaders-regional-jawa-bali-asah-kepemimpinan-dan-perluas-jejaring-nasional https://fai.darunnajah.ac.id/mahasiswa-fai-universitas-darunnajah-tampil-di-next-gen-leaders-regional-jawa-bali-asah-kepemimpinan-dan-perluas-jejaring-nasional#respond Wed, 19 Aug 2026 15:11:18 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/mahasiswa-fai-universitas-darunnajah-tampil-di-next-gen-leaders-regional-jawa-bali-asah-kepemimpinan-dan-perluas-jejaring-nasional YOGYAKARTA — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Darunnajah Jakarta melalui keikutsertaan M. Ridwan Septian, mahasiswa Kelas Karyawan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) 6C, dalam forum kepemimpinan mahasiswa Muslim tingkat regional. Ridwan menjadi representasi mahasiswa Universitas Darunnajah dalam Next Gen Leaders (NGL) Regional Jawa-Bali yang diselenggarakan Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) pada 7–9 Agustus 2026 di Asrama Haji Yogyakarta.

Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari capaian mahasiswa FAI dalam mengembangkan kapasitas diri sekaligus membawa nama universitas di ruang akademik dan kepemimpinan yang lebih luas. NGL mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa dan Bali untuk belajar, bertukar gagasan, serta membangun jejaring kepemimpinan dalam semangat “Mahasiswa Muslim Bertalenta Unggul Bersatu untuk Indonesia Emas 2045”.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, S.Fil., M.Si., dan turut dihadiri Ketua DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc. Kehadiran tokoh nasional tersebut memperkuat pesan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi pemimpin yang berintegritas, berwawasan luas, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa.

Selama tiga hari, Ridwan bersama peserta lainnya mengikuti rangkaian pembelajaran yang berfokus pada penguatan wawasan dan keterampilan kepemimpinan. Materi yang diberikan meliputi Peradaban Islam, Sejarah Islam di Indonesia, Problem Solving Leadership, Advokasi, Tauhid, dan Literasi Finansial yang dilengkapi dengan diskusi interaktif.

Tidak hanya menerima materi, peserta juga terlibat dalam pembahasan berbagai persoalan aktual di Indonesia, khususnya isu sosial, politik, dan hukum. Forum tersebut menjadi kesempatan bagi Ridwan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyampaikan argumentasi, serta merumuskan gagasan dan solusi secara konstruktif bersama mahasiswa dari berbagai latar belakang.

Peserta NGL berasal dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Islam Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keberagaman tersebut menciptakan ruang pertukaran perspektif sekaligus memperluas peluang kolaborasi dan jejaring antarmahasiswa.

Bagi Ridwan, keikutsertaan dalam NGL menjadi pengalaman berharga untuk memperluas wawasan kepemimpinan sekaligus mengembangkan kompetensi yang dapat diterapkan di lingkungan kampus dan masyarakat. Capaian ini menunjukkan bahwa mahasiswa FAI Universitas Darunnajah tidak hanya aktif dalam kegiatan akademik, tetapi juga mampu mengambil peran dalam forum pengembangan kepemimpinan di tingkat regional.

Rangkaian NGL Regional Jawa-Bali kemudian ditutup oleh Kepala Asrama Haji Yogyakarta, Hj. Silvia Roseti, S.E., M.Si., sebagai penanda berakhirnya kegiatan. Keikutsertaan M. Ridwan Septian menjadi salah satu prestasi dan kontribusi membanggakan mahasiswa FAI Universitas Darunnajah, sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi, memperluas jejaring, dan mengambil peran dalam forum kepemimpinan nasional.

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/mahasiswa-fai-universitas-darunnajah-tampil-di-next-gen-leaders-regional-jawa-bali-asah-kepemimpinan-dan-perluas-jejaring-nasional/feed 0
Dosen PIAUD Fakultas Agama Islam Universitas Darunnajah Resmi Raih Gelar Doktor https://fai.darunnajah.ac.id/dosen-piaud-fakultas-agama-islam-universitas-darunnajah-resmi-raih-gelar-doktor https://fai.darunnajah.ac.id/dosen-piaud-fakultas-agama-islam-universitas-darunnajah-resmi-raih-gelar-doktor#respond Wed, 12 Aug 2026 16:26:23 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/dosen-piaud-fakultas-agama-islam-universitas-darunnajah-resmi-raih-gelar-doktor Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Fakultas Agama Islam Universitas Darunnajah, Dwi Puji Lestari, M.Pd., berhasil menyelesaikan ujian terbuka disertasi pada 12 Agustus 2026. Capaian tersebut menjadi momentum membanggakan bagi Universitas Darunnajah sekaligus menandai keberhasilannya menyelesaikan pendidikan doktoral.

Ujian terbuka berlangsung di Gedung Bung Hatta, Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, pada pukul 09.00–10.30 WIB. Kegiatan dilaksanakan secara hybrid, yakni secara luring dan daring melalui ruang R. Cyber Learn lantai 6, sehingga dapat diikuti oleh sivitas akademika dan pihak terkait.

Dalam kesempatan tersebut, ia mempresentasikan disertasi berjudul “Model Proyek Berbasis Neuropedagogi untuk Meningkatkan Perilaku Prososial Anak Usia 5–6 Tahun.” Penelitian ini berfokus pada pengembangan model proyek berbasis neuropedagogi sebagai pendekatan untuk meningkatkan perilaku prososial pada anak usia dini.

Proses ujian dipimpin oleh Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus. selaku ketua, dengan Prof. Dr. Sofia Hartati, M.Si. sebagai sekretaris, serta melibatkan sejumlah anggota penguji, promotor, kopromotor, dan penguji luar. Seluruh penguji memberikan pertanyaan, penilaian, serta masukan akademik terhadap penelitian yang dipresentasikan.

Dari Universitas Darunnajah, turut hadir Rektor Assoc. Prof. Dr. Much Hasan Darojat, Dekan Fakultas Agama Islam, para dosen, serta pengelola sebagai bentuk dukungan terhadap pencapaian akademik tersebut. Kehadiran jajaran universitas juga menunjukkan komitmen institusi dalam mendorong pengembangan kompetensi dan kualitas akademik para dosen.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Universitas Darunnajah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya ujian terbuka dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh penguji yang telah memberikan waktu, perhatian, serta masukan akademik. Ia juga menegaskan pentingnya pencapaian tersebut sebagai bagian dari upaya Universitas Darunnajah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia dan budaya akademik.

Setelah melalui seluruh tahapan ujian, peserta dinyatakan berhasil mempertahankan disertasinya dan secara resmi memperoleh gelar doktor. Hasil ujian juga menetapkan predikat sangat memuaskan”, yang menjadi pengakuan atas capaian akademik dan kualitas penelitian yang telah diselesaikan.

Keberhasilan tersebut diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan anak usia dini, khususnya dalam penerapan pendekatan neuropedagogi. Prestasi ini sekaligus menjadi kebanggaan bagi Universitas Darunnajah dan motivasi untuk terus meningkatkan budaya akademik serta kualitas sumber daya manusia di lingkungan perguruan tinggi.

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/dosen-piaud-fakultas-agama-islam-universitas-darunnajah-resmi-raih-gelar-doktor/feed 0
Perkuat Mutu Pembelajaran, MPI Universitas Darunnajah dan Universitas Djuanda Bogor Gelar Review RPS dan Bahan Ajar Digital https://fai.darunnajah.ac.id/perkuat-mutu-pembelajaran-mpi-universitas-darunnajah-dan-universitas-djuanda-bogor-gelar-review-rps-dan-bahan-ajar-digital https://fai.darunnajah.ac.id/perkuat-mutu-pembelajaran-mpi-universitas-darunnajah-dan-universitas-djuanda-bogor-gelar-review-rps-dan-bahan-ajar-digital#respond Tue, 11 Aug 2026 16:18:23 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/perkuat-mutu-pembelajaran-mpi-universitas-darunnajah-dan-universitas-djuanda-bogor-gelar-review-rps-dan-bahan-ajar-digital Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Darunnajah melalui Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) menggelar kegiatan Review Pengembangan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan Bahan Ajar Digital bersama Program Studi MPI Universitas Djuanda Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 11 Agustus 2026, mulai pukul 12.30 WIB hingga selesai, bertempat di Ruang Kelas Magister MPI Universitas Darunnajah.

Kegiatan tersebut menjadi forum akademik untuk melakukan evaluasi dan pengembangan perangkat pembelajaran agar semakin relevan dengan kebutuhan mahasiswa serta perkembangan pendidikan di era digital. Kolaborasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya FAI Universitas Darunnajah dalam memperkuat budaya akademik dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran di lingkungan program studi.

Kegiatan dihadiri oleh Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Darunnajah, Duna Izfanna, M.Ed., Ph.D., dan Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Idham, M.Pd., bersama tim akademik dari kedua institusi. Kehadiran pimpinan fakultas dan program studi tersebut menunjukkan komitmen FAI Universitas Darunnajah dalam mendorong pengembangan pembelajaran yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.

Dalam sesi review, peserta membahas berbagai aspek penyempurnaan RPS, mulai dari struktur perkuliahan, capaian pembelajaran, materi, hingga strategi pembelajaran yang dapat diterapkan secara efektif. Pembahasan dilakukan melalui diskusi dan pertukaran gagasan untuk memastikan perangkat pembelajaran memiliki keterkaitan yang kuat antara capaian akademik, kebutuhan mahasiswa, serta kompetensi yang dibutuhkan di dunia pendidikan.

Salah satu materi yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah struktur dan materi perkuliahan Manajemen Bimbingan dan Konseling (BK). Selain meninjau substansi materi, peserta juga mendiskusikan pengembangan bahan ajar berbasis digital sebagai sarana untuk memperluas akses pembelajaran sekaligus meningkatkan interaktivitas dan kemandirian mahasiswa.

Pengembangan bahan ajar digital dipandang penting seiring dengan semakin berkembangnya pemanfaatan teknologi dalam proses pendidikan tinggi. Melalui kolaborasi dengan Universitas Djuanda Bogor, FAI Universitas Darunnajah berupaya membuka ruang pertukaran praktik baik dan pengalaman akademik untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang lebih inovatif, kontekstual, dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Dari kegiatan tersebut diperoleh sejumlah masukan dan rekomendasi yang akan menjadi bahan tindak lanjut dalam penyempurnaan RPS serta pengembangan bahan ajar digital Program Studi MPI. Hasil review diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat implementasi kurikulum yang berorientasi pada capaian kompetensi mahasiswa.

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah konkret FAI Universitas Darunnajah dalam membangun ekosistem akademik yang terus berkembang melalui kolaborasi dan evaluasi berkelanjutan. Ke depan, kerja sama akademik semacam ini diharapkan dapat terus diperluas untuk memperkuat mutu pendidikan, inovasi pembelajaran, dan daya saing Program Studi Manajemen Pendidikan Islam di tingkat nasional.

penulis: Winda Rahma & Putri Niar

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/perkuat-mutu-pembelajaran-mpi-universitas-darunnajah-dan-universitas-djuanda-bogor-gelar-review-rps-dan-bahan-ajar-digital/feed 0
Waspada Terhadap Pihak Ketiga Merusak Mahligai Rumah Tangga https://fai.darunnajah.ac.id/waspada-terhadap-pihak-ketiga-merusak-mahligai-rumah-tangga https://fai.darunnajah.ac.id/waspada-terhadap-pihak-ketiga-merusak-mahligai-rumah-tangga#respond Thu, 06 Aug 2026 13:49:35 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/waspada-terhadap-pihak-ketiga-merusak-mahligai-rumah-tangga “Jangan biarkan suara dari luar lebih keras daripada suara pasanganmu.”

Di era media sosial, kehidupan rumah tangga tidak lagi hanya diuji oleh persoalan ekonomi, komunikasi, atau perbedaan karakter. Ada ancaman lain yang sering kali datang secara halus, tetapi memiliki dampak yang sangat besar: intervensi pihak ketiga. Bukan hanya orang ketiga dalam makna perselingkuhan, tetapi juga orang-orang yang gemar membandingkan, menghasut, memberi nasihat tanpa ilmu, hingga membentuk persepsi negatif terhadap pasangan.

Inilah salah satu tema penting yang dibahas dalam Sakinah Talks pada Ahad, 2 Agustus 2026, yang diambil dari buku Baiti Jannati karya Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D.. Melalui kisah para salaf, beliau mengingatkan bahwa banyak rumah tangga tidak runtuh karena masalah besar, tetapi karena hati yang perlahan berubah akibat bisikan orang lain.

Rumah Tangga adalah Amanah yang Sangat Agung

Islam memandang pernikahan bukan sekadar hubungan antara dua manusia, melainkan ikatan suci (mītsāqan ghalīẓan) yang dibangun atas dasar kasih sayang dan rahmat Allah.

Allah Swt. berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

(QS. Ar-Rūm [30]: 21).

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama pernikahan adalah menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah, bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis ataupun sosial.

Namun, sebagaimana dijelaskan dalam Baiti Jannati, ketenangan itu tidak datang tanpa ujian. Justru ketika sebuah keluarga mulai harmonis, berbagai godaan sering kali hadir dari luar rumah.

Belajar dari Abu Muslim al-Khawlānī

Dalam buku tersebut diceritakan kisah seorang tabi’in besar, Abu Muslim al-Khawlānī, yang dikenal sebagai ahli ibadah dan memiliki kehidupan rumah tangga yang sangat harmonis.

Beliau memiliki kebiasaan sederhana. Setiap memasuki rumah, beliau mengucapkan takbir. Ketika istrinya menjawab takbir tersebut, beliau mengetahui bahwa kondisi rumah dalam keadaan baik. Namun suatu hari, tidak ada jawaban dari sang istri. Setelah ditelusuri, ternyata istrinya baru saja dipengaruhi oleh seorang wanita yang menanamkan perasaan bahwa dirinya diperlakukan seperti pembantu di rumah sendiri.

Hanya dengan beberapa kalimat, persepsi yang sebelumnya baik berubah menjadi rasa kecewa.

Kisah ini mengajarkan bahwa musuh terbesar rumah tangga terkadang bukan pasangan sendiri, tetapi persepsi yang dibangun oleh orang lain.

Psikologi Menjelaskan Mengapa Bisikan Itu Berbahaya

Temuan ini ternyata sejalan dengan penelitian psikologi modern.

Psikolog Amerika John Gottman, melalui penelitiannya mengenai stabilitas pernikahan, menjelaskan bahwa pasangan yang mampu bertahan bukan karena mereka tidak memiliki konflik, melainkan karena mereka menjaga komunikasi positif dan tidak membiarkan pengaruh luar mengendalikan hubungan mereka.

Sementara itu, Dr. Sue Johnson, penggagas Emotionally Focused Therapy (EFT), menyatakan bahwa rasa aman dalam hubungan akan rusak ketika pasangan mulai kehilangan kepercayaan dan lebih mempercayai narasi dari luar dibandingkan komunikasi langsung dengan pasangannya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Dr. Gary Chapman, penulis The Five Love Languages. Menurutnya, kebutuhan terbesar pasangan bukanlah materi, tetapi merasa dipahami, dihargai, dan dicintai. Ketika kebutuhan emosional ini tidak dipenuhi, seseorang menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh pihak luar.

Artinya, apa yang telah dijelaskan oleh para ulama sejak berabad-abad lalu ternyata sejalan dengan temuan ilmu psikologi modern.

Iblis Sangat Menyukai Perceraian

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa salah satu misi terbesar setan adalah memisahkan suami dan istri.

Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu mengirim bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang datang dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang yang lain dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya hingga berhasil memisahkan antara seorang suami dan istrinya.’ Maka Iblis mendekatkannya dan berkata, ‘Engkau yang terbaik.'”
(HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa merusak rumah tangga merupakan salah satu keberhasilan terbesar Iblis.

Karena itu, Al-Qur’an juga mengingatkan agar manusia berlindung dari bisikan-bisikan yang merusak hubungan antarsesama (QS. An-Nās: 4–6).

Perspektif Ulama: Menjaga Rahasia Rumah Tangga adalah Kewajiban

Dalam perspektif hukum Islam, para ulama menjelaskan bahwa menjaga kehormatan rumah tangga termasuk bagian dari ḥifẓ al-‘irdh (menjaga kehormatan), salah satu tujuan penting syariat.

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadis tentang larangan membuka rahasia pasangan menegaskan bahwa menyebarkan persoalan rumah tangga kepada orang yang tidak berkepentingan merupakan perbuatan tercela karena dapat menghilangkan kepercayaan dalam keluarga.

Sementara itu, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menjelaskan bahwa salah satu bentuk mu’āsyarah bil ma’rūf adalah menjaga kehormatan pasangan, termasuk tidak mempermalukannya di hadapan orang lain.

Dengan demikian, curhat kepada orang yang salah bukan sekadar persoalan etika, tetapi juga dapat bertentangan dengan nilai-nilai syariat apabila membuka aib pasangan tanpa alasan yang dibenarkan.

Apa yang Harus Dilakukan Pasangan?

Buku Baiti Jannati memberikan beberapa langkah preventif yang sangat relevan dengan kehidupan keluarga masa kini.

Pertama, membangun komunikasi harian. Pasangan perlu memiliki waktu khusus untuk saling bertanya tentang kondisi hati, bukan hanya membicarakan kebutuhan rumah tangga.

Kedua, mengenali perubahan emosional pasangan. Perubahan kecil sering kali menjadi tanda awal adanya masalah yang lebih besar.

Ketiga, menjaga privasi keluarga. Tidak semua persoalan layak dipublikasikan kepada teman, media sosial, atau bahkan keluarga besar.

Keempat, memperbanyak doa. Abu Muslim al-Khawlānī tidak membalas pengaruh buruk dengan kemarahan, melainkan dengan doa dan tawakal kepada Allah.

Jadikan Rumah Sebagai Surga Dunia

Pada akhirnya, rumah yang bahagia bukanlah rumah tanpa masalah. Rumah yang bahagia adalah rumah yang menjadikan iman sebagai fondasi, ilmu sebagai cahaya, ketakwaan sebagai pagar, komunikasi sebagai jembatan, dan doa sebagai penguat hubungan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Baiti Jannati, surga dunia tidak hadir karena pasangan yang sempurna, tetapi karena dua orang yang terus memilih untuk menjaga amanah pernikahan setiap hari. Ketika iman, ilmu, dan ketakwaan menjadi pondasi keluarga, maka rumah akan menjadi tempat pulang yang menenangkan sekaligus menjadi madrasah pertama bagi lahirnya generasi terbaik.

Penutup

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, setiap pasangan perlu lebih selektif terhadap suara-suara yang masuk ke dalam rumah tangga. Jangan sampai komentar orang lain lebih dipercaya daripada pasangan sendiri.

Mari menjadikan keluarga sebagai Baiti Jannati—rumah yang dipenuhi zikir, dihiasi komunikasi yang sehat, dikuatkan oleh ilmu, dijaga dengan ketakwaan, dan selalu bergantung kepada pertolongan Allah. Karena rumah yang baik bukan hanya melahirkan keluarga yang bahagia, tetapi juga melahirkan peradaban yang mulia.

Oleh. Delpa Firdaus, M. H

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/waspada-terhadap-pihak-ketiga-merusak-mahligai-rumah-tangga/feed 0
Dua Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Darunnajah Lulus Program Bantuan Penelitian Berbasis SBK Kementerian Agama RI Tahun 2026 https://fai.darunnajah.ac.id/dua-dosen-fakultas-agama-islam-universitas-darunnajah-lulus-program-bantuan-penelitian-berbasis-sbk-kementerian-agama-ri-tahun-2026 https://fai.darunnajah.ac.id/dua-dosen-fakultas-agama-islam-universitas-darunnajah-lulus-program-bantuan-penelitian-berbasis-sbk-kementerian-agama-ri-tahun-2026#respond Wed, 05 Aug 2026 10:53:08 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/dua-dosen-fakultas-agama-islam-universitas-darunnajah-lulus-program-bantuan-penelitian-berbasis-sbk-kementerian-agama-ri-tahun-2026 Jakarta — 05 Agustus 2026, Kabar membanggakan datang dari Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Darunnajah. Dua dosen FAI berhasil lulus pada Program Penerimaan Bantuan Penelitian Berbasis Standar Biaya Keluaran (SBK) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2026.
Dua dosen tersebut adalah Dr. Dwi Puji Lestari, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), dan Farah Diba, M.I.Kom., dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI).
Dwi Puji Lestari, M.Pd. berhasil lulus melalui penelitian berjudul “Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Sikap Moderasi Beragama Anak Usia 5–6 Tahun di Raudhatul Athfal (RA) Jakarta.” Penelitian ini berfokus pada pengembangan media cerita berbasis kearifan lokal untuk mendukung penanaman nilai-nilai moderasi beragama sejak usia dini.


Sementara itu, Farah Diba, M.I.Kom., berhasil lulus melalui penelitian berjudul “Smart System sebagai Solusi untuk Kesenjangan Komunikasi Digital Partisipatif di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta.” Penelitian ini berfokus pada pengembangan sistem digital untuk mendukung komunikasi yang lebih efektif dan partisipatif di lingkungan pesantren.


Kelulusan kedua dosen tersebut menjadi capaian penting bagi FAI Universitas Darunnajah dalam memperkuat budaya penelitian dan inovasi. Kedua penelitian juga mencerminkan pengembangan pendidikan Islam integratif yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, baik melalui penguatan moderasi beragama dan karakter sejak usia dini maupun melalui transformasi digital dalam pengelolaan pendidikan Islam.
Capaian ini sejalan dengan visi Fakultas Agama Islam Universitas Darunnajah, yaitu “Menjadi pusat keunggulan pendidikan Islam integratif tingkat internasional dalam melahirkan sarjana yang berakhlak mulia.” Penguatan penelitian yang inovatif, kontekstual, dan berdampak menjadi bagian penting dalam membangun keunggulan akademik serta mendukung terwujudnya pendidikan Islam yang relevan dengan perkembangan zaman.
Keberhasilan Dwi Puji Lestari dan Farah Diba diharapkan menjadi motivasi bagi dosen-dosen FAI Universitas Darunnajah untuk terus meningkatkan kualitas penelitian, publikasi, inovasi, dan kontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam.
Selamat kepada Dr. Dwi Puji Lestari, M.Pd. dan Farah Diba, M.I.Kom. atas kelulusan pada Program Penerimaan Bantuan Penelitian Berbasis Standar Biaya Keluaran (SBK) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2026. Semoga penelitian yang dilaksanakan memberikan manfaat dan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan Islam dan masyarakat.

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/dua-dosen-fakultas-agama-islam-universitas-darunnajah-lulus-program-bantuan-penelitian-berbasis-sbk-kementerian-agama-ri-tahun-2026/feed 0
Gugus Mutu dan LP2M Fakultas Agama Islam melakukan Studi Tiru Penyelenggaraan Desa Binaan di Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAI-PG) Universitas Djuanda https://fai.darunnajah.ac.id/gugus-mutu-dan-lp2m-fakultas-agama-islam-melakukan-studi-tiru-penyelenggaraan-desa-binaan-di-fakultas-agama-islam-dan-pendidikan-guru-fai-pg-universitas-djuanda https://fai.darunnajah.ac.id/gugus-mutu-dan-lp2m-fakultas-agama-islam-melakukan-studi-tiru-penyelenggaraan-desa-binaan-di-fakultas-agama-islam-dan-pendidikan-guru-fai-pg-universitas-djuanda#respond Tue, 04 Aug 2026 15:49:25 +0000 https://fai.darunnajah.ac.id/gugus-mutu-dan-lp2m-fakultas-agama-islam-melakukan-studi-tiru-penyelenggaraan-desa-binaan-di-fakultas-agama-islam-dan-pendidikan-guru-fai-pg-universitas-djuanda Bogor, 04 Agustus 2026 — Universitas Darunnajah melaksanakan kegiatan studi tiru program Desa Binaan di Universitas Djuanda, Bogor, pada Senin (4/8/2026). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya memperoleh pengalaman dan praktik baik dalam pengelolaan program Desa Binaan yang dapat dikembangkan di lingkungan Universitas Darunnajah.

Kegiatan studi tiru tersebut disambut oleh Dekan Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru Universitas Djuanda, Dr. Abdul Kholik, S.Pd., M.Pd.I. Dalam sambutannya, disampaikan pengalaman Universitas Djuanda dalam mengembangkan program pembinaan desa secara intensif dan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Dwi Puji Lestari, S.Pd.I., M.Pd., selaku Gugus Mutu dan LP2M Fakultas Agama Islam, secara khusus menggali informasi mengenai mekanisme pelaksanaan Desa Binaan di Universitas Djuanda. Pertanyaan yang disampaikan mencakup bagaimana proses penetapan desa binaan, dasar pemilihan desa, mekanisme identifikasi kebutuhan masyarakat, bentuk pendampingan yang dilakukan, serta keterlibatan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Menanggapi hal tersebut, pihak Universitas Djuanda menjelaskan bahwa program Desa Binaan dilaksanakan secara intensif dengan melibatkan mahasiswa melalui kegiatan KKN. Pembinaan desa tidak hanya dilakukan dalam bentuk kegiatan sesaat, tetapi diarahkan pada proses pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa.

Salah satu hal penting yang menjadi perhatian dalam mekanisme Desa Binaan Universitas Djuanda adalah penggunaan data sebagai dasar penyusunan program. Universitas Djuanda memanfaatkan data yang tersedia di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi dan kebutuhan desa. Data tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam menentukan bentuk pembinaan dan program yang akan dilaksanakan.

Pendekatan berbasis data memungkinkan program Desa Binaan lebih tepat sasaran karena kegiatan yang dirancang tidak hanya berdasarkan asumsi perguruan tinggi, tetapi mempertimbangkan kondisi dan permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat menyesuaikan kompetensi akademik yang dimiliki dengan kebutuhan pembangunan desa.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa melalui KKN turut berperan dalam proses pembinaan masyarakat. Mahasiswa ditempatkan sebagai bagian dari proses pemberdayaan dengan melaksanakan program sesuai dengan kebutuhan desa, sementara perguruan tinggi memberikan pendampingan dan penguatan agar program dapat berjalan secara terarah.

Setelah memperoleh informasi mengenai mekanisme Desa Binaan, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penjajakan kerja sama antara Gugus Mutu dan LP2M fakultas dan LP2M Universitas Darunnajah dengan Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru Universitas Djuanda, khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Penjajakan tersebut membuka peluang bagi pengembangan penelitian kolaboratif antardosen serta pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat secara bersama. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat mendukung pengembangan Desa Binaan melalui pemanfaatan hasil penelitian dan kepakaran dosen dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Bagi Fakultas Agama Islam Universitas Darunnajah, kegiatan studi tiru ini menjadi momentum penting untuk memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai tata kelola Desa Binaan sekaligus membangun jejaring kelembagaan dengan Universitas Djuanda. Informasi yang diperoleh selanjutnya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merancang mekanisme Desa Binaan yang berbasis data, sesuai kebutuhan masyarakat, melibatkan mahasiswa, serta memiliki keberlanjutan.

Kegiatan studi tiru ini menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, mahasiswa, dan masyarakat dalam mengembangkan program Desa Binaan. Melalui pendekatan yang berbasis data, kebutuhan masyarakat, kolaborasi, dan pendampingan berkelanjutan, program Desa Binaan diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pemberdayaan dan pembangunan masyarakat. (dpl)

 

]]>
https://fai.darunnajah.ac.id/gugus-mutu-dan-lp2m-fakultas-agama-islam-melakukan-studi-tiru-penyelenggaraan-desa-binaan-di-fakultas-agama-islam-dan-pendidikan-guru-fai-pg-universitas-djuanda/feed 0